JAKARTA - Menteri Sosial (Mensos) Tri Rismaharini alias Risma Rapat Kerja (Raker) bersama Komisi VIII DPR. Saat Anggota Fraksi Partai Golkar M Ali Ridho bercerita tentang Mbah Semi, Risma terlihat menangis.

Dikutip dari Kompas.com, Ridho menceritakan, ada seorang wanita di Magetan berusia kisaran 90 tahun yang hidup sebatang kara, namanya Semi. Mbah Semi menghidupi dirinya dengan mengandalkan penghasilan dari kerupuk lempeng.

"Saya menyempatkan diri untuk datang ke rumahnya, saya cari alamatnya dari berita, dan memang benar orang ini sebatang kara. Kebetulan dia memasak, mohon maaf bu, kebetulan tidak ada beras," kata Ridho, di gedung DPR, Senayan, Jakarta Selatan.

Ceritanya pun sempat terhenti lantaran ia menahan tangis. Katanya, wanita tersebut memasak tahu dan kacang panjang yang direbus tanpa menu lainnya.

Mendengar cerita tersebut, Risma tampak menahan tangis dengan menutupi wajahnya menggunakan tangan.

"Saya tahu mungkin ini temuan saya satu-dua. Saya yakin Bu Menteri menemukan hal banyak hal seperti ini karena wilayah yang Ibu tangani adalah di seluruh Nusantara ini," ujarnya.

"Yang kasihan itu dia sering melihat tetangganya menerima bantuan, ya mungkin tetangganya layak dibantu. Tetapi, dirinya tidak menerima bantuan," sambungnya.

Di sisi lain yang masih di desa yang sama, menurut informasi yang didapatkan Ridho, ada sejumlah pihak yang menerima bansos namun sebenarnya suda tidak berhak menerimanya.

Oleh karena itu, ia mempertanyakan siapa pihak yang berhak untuk mengusulkan dari bawah nama orang yang berhak masuk ke Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

"Yang kita sama-sama tahu di lapangan, agak sulit mencoret KPM yang sebenarnya sudah tidak layak menerima, tetapi dia tetap menerima dan ketika harus dikeluarkan ini ada banyak hal yang menyebabkan mereka tidak berani. Entah itu ancaman, atau kepala desa tidak berani mencoret KPM yang sudah mampu dan tidak layak menerima," tuturnya.

Dalam momentum tersebut, Risma tampak menundukkan kepala. Wajahnya memerah seolah sedang menahan tangis. Ia terlihat melepas kaca matanya dan mengusap air matanya dengan tisu.

Risma Dicecar Soal Bansos

Dalam Raker tersebut, Anggota Komisi VIII DPR dari Fraksi PKS, Iskan Qolba Lubis menyoroti terkait dengan penyaluran bantuan sosial (bansos) pada awal tahun 2024.

Mulanya, Iskan bertanya terkait dengan sumber anggaran yang dipergunakan untuk bansos yang disalurkan pemerintah pada bulan Januari-Februari 2024 kemarin.

"Penyaluran bansos di awal Januari-Februari, itu anggaran 2023 atau 2024? Karena setahu saya, saya kan di Badan Anggaran (Banggar), biasanya Januari-Februari itu belum banyak program karena program datang dari ketika sudah pajak datang," kata Iskan.

Pertanyaan tersebut pun langsung dijawab Risma. Menurut Risma anggaran itu bersumber dari pagu anggaran tahun 2024.

"Januari-Februari saya keluarkan Pak, 2024," ujar Risma.

Kondisi ini pun menimbulkan pertanyaan lanjutan dari Iskan. Pasalnya, menurut Iskan biasanya anggaran belum tersedia di awal tahun, kecuali Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran Tahun Berkenaan (SILPA). Sementara SILPA sendiri biasanya dipergunakan untuk gaji pegawai.

"2024 itu Bu, saya ini paham saya di Banggar, 2024 itu rata-rata anggaran itu uang di negara belum ada kecuali SILPA. SILPA dipakai untuk gaji. Januari-Februari itu biasanya normalnya belum ada program. Kok ada program di bulan Januari?," ujar Iskan.

"Ini banyak bertanya masyarakat dan Menteri Sosial kan tidak menjawab itu di masyarakat. Jadi anggaran-anggaran begitu kan nggak boleh diam, harus dijelaskan ke publik," sambungnya.

Hal senada juga disampaikan oleh Anggota Komisi VIII DPR My Esti Wijayanti. Berdasarkan temuannya di sejumlah daerah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada awal tahun atau tepatnya sebelum kontestasi Pemilu dan Pilpres 2024, bansos pangan mengalir deras.

"Kami merasakan di DIY, bagaimana bombardir bansos yang mengalir tiada henti," kata Esti.

"Saya mendapat catatan di 2022 dan 2023 memang betul yang dikatakan Pak Iksan bahwa lumrahnya keluar di awal bulan Maret, itu data saya yang di DIY. Tetapi di 2024 ini memang keluarnya cukup membuat terkaget-kaget, be..ber..ber, di Januari-Februari," sambungnya.

Oleh karena itu, ia mengharapkan penjelasan lengkap dari Risma menyangkut pendataan mana bansos yang masuk ke dalam payung Kemensos dan mana yang tidak termasuk.

"Pertanyaan kami, bantuan sosial yang mengalir itu yang kami lihat, saya juga ke banyak titik, ada beras bergulir, saya nggak tahu tulisannya apa, orang tahunya bansos. Itu mengalir tiada henti menjelang coblosan 14 Februari. Kami membutuhkan ini untuk bisa mendudukkan persoalan siapa yang bertanggung jawab," tuturnya.***