
TELUKKUANTAN – Keberadaan gelandangan dan pengemis (gepeng) di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, terus meningkat dan meresahkan warga setempat. Fenomena ini marak dijumpai pasca penyelenggaraan Festival Pacu Jalur, dengan beragam modus mulai dari kostum badut hingga manusia silver.
Warga juga mengeluhkan indikasi eksploitasi anak yang dilakukan para gepeng untuk menarik simpati publik.
Syafri, seorang warga Kuansing, mengungkapkan bahwa jumlah gepeng di wilayah Telukkuantan bertambah signifikan dibanding sebelumnya.
"Keberadaan mereka semakin banyak dan mulai meresahkan. Tidak hanya badut, tetapi juga ada manusia silver," ujar Syafri saat ditemui GoRiau.com di Telukkuantan, Selasa (8/9/2026).
Menurut Syafri, para gepeng kerap beroperasi di persimpangan lampu merah dekat Rumah Dinas Bupati Kuansing. Mereka mendatangi setiap kendaraan yang berhenti saat lampu merah menyala.
"Ada juga kelompok yang membawa anak kecil, diduga pasangan suami istri. Mereka beraktivitas di persimpangan lampu merah hingga tengah malam," katanya.
Selain di persimpangan jalan utama, gepeng juga tersebar di kawasan pasar, kedai kopi, dan pusat-pusat keramaian di Telukkuantan.
"Mereka ada koordinatornya, dan saya yakin mereka bukan orang asli Kuansing," kata Syafri.
Masyarakat berharap Pemerintah Kabupaten Kuansing melalui instansi terkait segera mengambil langkah penertiban sekaligus memberikan pembinaan agar masalah ini tidak semakin berlarut.***