
SONYA lahir dan dibesarkan di Swiss, di negara yang dalam jumlah besar penduduknya tidak beragama dan tidak percaya adanya Tuhan atau atheis. Sonya termasuk yang tidak percaya akan adanya Tuhan.
Namun, saat dewasa Sonya memutuskan menjadi mualaf. Kisah perjalanan spritualnya menjadi Muslimah diceritakan Sonya dalam kanal YouTube Barat Bersyahadat.
Dikutip dari Viva.co.id, yang melansir kanal YouTube Barat Bersyahadat, Sonya menuturkan, saat berusia 24 tahun ia memutuskan berkeliling dunia. Ia pergi ke Amerika Selatan, Amerika Utara, dan Asia. Di Asia, ia mengunjungi Thailand karena banyak kuil dan tempat semedi umat Buddha.
''Saat itu aku sangat ingin bersemedi (di kuil Buddha) tapi sayangnya tidak jadi karena waktunya teramat singkat. Lalu aku melanjutkan perjalanan ke pulau Ko Samui dan menginap di sebuah hostel. Pemilik hostel itu ternyata seorang Muslim,'' ucap Sonya seperti dikutip Viva dari kanal YouTube Barat Bersyahadat pada Jumat, 10 Juni 2022.
Suatu saat ia melihat pemilik hostel (penginapan) melaksanakan shalat dan itu membuatnya penasaran. Kemudian pemilik hostel menjelaskan, bahwa kegiatan tersebut adalah shalat dan umat Muslim di seluruh dunia melaksanakan ibadah shalat lima kali dalam sehari semalam.
Penjelasan itu membuatnya semakin penasaran dan ingin mengunjungi masjid.
''Saat di masjid aku berjumpa dengan seorang mualaf muda asal negara Finlandia. Mualaf itu pun meminta aku apakah bisa mengantar dia untuk ke masjid pada esok hari. Tapi, ketika itu aku tak punya baju syar’i meskipun aku ada rok panjang tapi aku tak punya sweater panjang. Sebab suhu di Thailand sangat panas,'' tuturnya.
Sonya kemudian ingat bahwa dirinya memiliki jaket, tapi suhu di Thailand mencapai 30 derajat celcius. Namun, ia tetap memakai jaket tersebut dilengkapi dengan syal tebal sebagai penutup kepalanya.
Kesabaran Sonya diuji karena mualaf tersebut tidak kunjung datang dan ia sampai melepas penutup kepalanya karena kegerahan. Tapi, mualaf tersebut tiba-tiba datang.
''Tiba-tiba mualaf yang janjian denganku itu datang pakai motor, ‘Anda yang mau keliling dengan saya kan?’ Aku jawab iya betul, aku pun segera memakai kain tadi. Kami pun kembali ke masjid dan lucunya saat itu aku masih memiliki tindik di bibir bawahku dan di masjid itu ada banyak anak yang sedang sholat,'' ucap Sonya.
Setelah itu, Sonya keluar dari masjid dan berdiskusi tentang agama Islam. Sonya mulai menyadari, bahwa Islam ternyata tak seperti yang ada dalam pikirannya. Sebab, ia hanya mengandalkan berita dari media saja untuk mengetahui Islam. Setelah diskusi tersebut, ia mengetahui ternyata Islam jauh lebih dalam secara spiritual ketimbang agama lain sehingga ia mulai tertarik.
''Lalu, aku lanjutkan perjalanan dengan mualaf dari Finlandia dan dua orang warga China. Sepanjang jalan aku terus bertanya tentang Islam. Tiga pekan kemudian temanku pulang dan aku tetap tinggal di Thailand bersama teman lain di Pulau Koh Phangan,'' tambah Sonya.
Memutuskan Jadi Mualaf
Saat ia mulai tertarik dengan Islam, di pulau Koh Phangan digelar pesta terbesar dan ia selalu ingin menghadirinya. Namun, di dalam pikirannya hanya ada Islam. Setelah tiga hari berlalu, ia menyadari bahwa Islam agama yang benar dan tidak bisa dibantah lagi sampai akhirnya ia mantap mengucapkan dua kalimat syahadat.
''Aku sampai menangis terisak-isak, saat itu adalah saat intim yang sangat indah antara aku dan Tuhan. Setelah itu, aku merasa aneh sebab akhirnya berhasil melakukannya. Aku pun langsung berhijab saat itu juga. Berhijab bagus juga menurutku karena ini sudah yakin jadi aku pun putuskan mengenakannya,'' ujar Sonya.
Bertemu Calon Suami
Setelah mualaf dan berhijab, Sonya kemudian memutuskan pergi ke Malaysia, sebab 60 persen populasinya menganut agama Islam. Sonya berpikir bahwa dengan pergi ke negara tersebut ia bisa belajar agama Islam dengan benar dan terhindar dari ekstrimisme. Selain mendapatkan ilmu baru, ia juga bertemu dengan sang suami.
''Di Malaysia aku pun bertemu calon suami dan aku tinggal di negara itu selama 1 setengah tahun. Kami menikah dan pergi ke Swiss, kami sangat bahagia. Akulah yang meminta ke suami pulang ke Swiss. Aku rindu kampung halaman, alamnya, keluargaku, intinya semua tentang Swiss dimana aku dilahirkan,'' tuturnya.
Tantangan Muslim di Swiss
Pada saat datang ke Swiss dalam kondisi berhijab banyak orang yang tidak percaya bahwa Sonya adalah orang asli negara tersebut. Ia juga mengatakan bahwa mengenakan hijab di negara berbahasa Jerman tersebut cukup sulit karena akan menjadi tontonan banyak orang.
Ia mengatakan kepada kedua orang tuanya bahwa Islam bukan negara yang mereka kira. Islam adalah agama yang sangat menarik. Penjelasannya ternyata dipahami kedua orang tuanya. Mereka membebaskan Sonya memilih agama apapun yang diyakininya baik untuknya.***