PEKANBARU - Asap dan kualitas udara yang buruk masih menyelimuti langit Kota Pekanbaru. Kondisi ini memicu kekhawatiran dari kalangan legislatif terkait keselamatan peserta didik jika harus kembali menjalani pembelajaran tatap muka di ruang kelas pada esok hari.

Anggota DPRD Kota Pekanbaru, Arwinda Gusmalina mendesak pemerintah daerah agar menjadikan kondisi faktual kualitas udara sebagai patokan utama, bukan sekadar durasi yang tertera pada selembar surat edaran. Menurutnya, kesehatan anak-anak jauh lebih penting ketimbang mengejar daftar hadir fisik di sekolah.

"Kita melihat kondisi sekarang masih berbahaya. Jadi kita mendorong supaya PJJ tetap dipertimbangkan untuk dilanjutkan," tegas Arwinda kepada GoRiau.com, Rabu (9/9/2026).

Abaikan Edaran Jika Masih Berbahaya

Masa belajar daring atau Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan Pekanbaru sejatinya telah diperpanjang dan akan berakhir pada hari ini. Jika merujuk pada dokumen tersebut, seluruh pelajar dari tingkat PAUD hingga SMP sederajat dijadwalkan kembali menjalani aktivitas sekolah secara normal pada Kamis (10/9/2026).

Melihat realitas lingkungan saat ini, Arwinda yang juga menjabat sebagai Sekretaris DPD PAN Pekanbaru mewanti-wanti agar aturan birokrasi tersebut tidak diterapkan secara kaku. Jika data pemantauan kualitas udara masih menunjuk pada level tidak sehat, pemerintah diminta tidak mengambil risiko membahayakan paru-paru anak didik.

"Jangan karena surat edarannya hari ini selesai, kemudian besok langsung sekolah seperti biasa tanpa melihat kondisi udara. Kalau memang masih tidak sehat, kesehatan anak harus nomor satu," imbuhnya. ***