
KAMPAR –Kelompok pengolah ikan patin di Desa Koto Masjid, Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, mulai didorong memanfaatkan media sosial untuk memperluas pasar produk olahan. Selama ini, pemasaran produk masih banyak mengandalkan jaringan lokal dan penjualan secara langsung.
Dorongan itu disampaikan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertajuk Pemberdayaan Kelompok Pengolah Ikan Patin melalui Strategi Digital Branding dan Social Commerce untuk Perluasan Pasar Produk Hilirisasi. Kegiatan yang digelar tim pengabdian Universitas Riau melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM Unri) berlangsung di Desa Koto Masjid, Sabtu, 22 Agustus 2026.
Puluhan warga mengikuti kegiatan tersebut. Pesertanya berasal dari berbagai kelompok usia, mulai dari generasi Z hingga generasi baby boomer. Mereka mendapatkan materi mengenai strategi membangun identitas produk, pemanfaatan media sosial, serta pemasaran melalui platform digital.
Ketua tim pengabdian, Dr. H. Gatot Wijiyanto, SE., M.Si., mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan agar masyarakat mampu menggunakan media sosial, tetapi juga memahami cara menjadikan platform digital sebagai sarana pemasaran.
"Kalau tidak dikenal di luar sana, sama saja kita tidak berjualan. Produk yang secara kualitas dan teknis sudah bagus, kalau tidak dipromosikan dengan baik dan dikenalkan dengan benar, sasaran pasarnya tidak akan maksimal," ujarnya dalam pemaparan.
Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan oleh tim yang terdiri atas Dr. H. Gatot Wijiyanto, SE., M.Si. sebagai ketua, bersama Rovanita Rama, SE., MH.; Arwinence Pramadewi, SE., MM.; Jushermi, SE., MSBA.; Ria Rafianti, M.Pd.; Sri Agustina Ratnawati, M.Pd.; serta Refli Surya Barkara M.Pd.
Menurut Gatot, digital branding menjadi salah satu strategi untuk membawa produk olahan ikan patin Koto Masjid keluar dari pasar lokal. Produk seperti keripik ikan, basreng dan abon patin dinilai memiliki peluang untuk dipasarkan lebih luas apabila dikemas dan diperkenalkan melalui kanal digital.
Tim pengabdian juga memperkenalkan sejumlah platform yang dapat digunakan masyarakat, antara lain TikTok, Instagram, Reels dan marketplace seperti Shopee. Namun, materi pelatihan difokuskan pada pemanfaatan TikTok sebagai salah satu media yang dinilai memiliki jangkauan luas.
"Selama ini kita sering melihat punya orang lain, tetapi punya kita tidak dilihat orang lain. Itu persoalannya. Karena itu kami ingin memperkenalkan bagaimana strategi branding secara digital melalui media sosial," kata Gatot.
Ia mengatakan tim menargetkan terbentuknya sekitar tiga sampai lima akun media sosial yang dapat aktif dan berkelanjutan setelah pelatihan. Tim juga membuka kemungkinan pendampingan lanjutan secara daring apabila masyarakat membutuhkan konsultasi mengenai pemasaran digital.
Materi pemberdayaan dalam kegiatan tersebut disampaikan oleh Sri Agustina Ratnawati, M.Pd., yang akrab disapa Ratna. Ia menjelaskan bahwa pemasaran digital bukan sekadar membuat akun media sosial, tetapi bagaimana pelaku usaha membangun identitas produk, membuat konten yang menarik, dan mengarahkan perhatian pengguna media sosial menjadi peluang penjualan.
Ratna juga mengajak peserta melihat media sosial bukan hanya sebagai tempat menikmati konten orang lain. Platform tersebut, kata dia, dapat digunakan pelaku usaha untuk memperkenalkan produk lokal kepada calon konsumen yang lebih luas.
"Jangan hanya menikmati media sosial, tetapi bagaimana media sosial itu bisa menikmati kita juga. Bapak dan Ibu punya produk, bagaimana produk itu diberdayakan agar dikenal lebih luas," ujarnya.
Sekretaris Desa Koto Masjid, Geneper Siddik, S.Pi., mengapresiasi dipilihnya desa tersebut sebagai lokasi pengabdian. Menurut dia, materi digital marketing relevan dengan kondisi masyarakat saat ini, terutama bagi pelaku usaha muda yang mulai memanfaatkan media sosial.
"Kita harus mengikuti perkembangan ini. Dari media sosial jangkauannya bukan hanya Indonesia, tetapi dunia. Kita bahkan bisa berbelanja dari rumah. Jangan sampai masyarakat Desa Koto Masjid tidak bisa memanfaatkan peluang ini," kata Geneper.
Ia berharap pelatihan tersebut membantu masyarakat memasarkan produk tanpa hanya bergantung pada pembeli yang datang langsung ke desa.
Salah seorang peserta, Dendi, mengatakan kegiatan tersebut memberikan perspektif baru mengenai pengembangan usaha. Ia selama ini memiliki usaha makanan dan minuman serta usaha ikan patin, komoditas yang lekat dengan identitas Desa Koto Masjid sebagai Kampung Patin.
Dendi mengaku sebenarnya sudah memiliki akun TikTok, tetapi belum memahami cara memanfaatkannya secara optimal untuk mendukung usaha. Karena itu, materi mengenai digital branding dan pemasaran melalui media sosial dinilai dapat membantu pelaku usaha seperti dirinya.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya perguruan tinggi mendampingi masyarakat dalam mengembangkan potensi ekonomi lokal. Bagi Desa Koto Masjid, yang dikenal sebagai salah satu sentra ikan patin di Kampar, pemanfaatan teknologi digital diharapkan dapat memperluas pasar produk hilirisasi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil perikanan masyarakat. ***