PEKANBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kian serius seiring memasuki musim panas. Lonjakan titik panas atau *hotspot* memaksa lima kabupaten untuk secara resmi menetapkan status siaga darurat guna mempercepat penanganan di lapangan.

Lima daerah yang telah mengambil langkah tersebut adalah Kabupaten Pelalawan, Kabupaten Indragiri Hilir, Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Siak, dan Kabupaten Kampar. Penetapan status ini menjadi dasar hukum bagi daerah untuk mengerahkan personel dan anggaran secara lebih optimal.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, M Edy Afrizal, menjelaskan bahwa langkah ini merupakan respon cepat menghadapi peningkatan titik panas dalam beberapa pekan terakhir. Ia meminta pemerintah daerah segera melakukan mitigasi nyata.

"Sampai saat ini sudah lima daerah di Riau yang menetapkan status siaga darurat Karhutla. Penanganan harus cepat begitu ditemukan titik api agar tidak meluas," tegas Edy, Kamis (5/3/2026).

Selain penguatan patroli, Edy meminta pemerintah kabupaten dan kota menggencarkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Pesan ini diharapkan sampai ke tingkat tapak melalui camat, kepala desa, hingga lurah.

"Peralatan serta perlengkapan pemadaman harus disiagakan, termasuk dukungan anggaran operasional untuk pencegahan," tambahnya.

Berdasarkan data awal tahun 2026, tercatat sebanyak 11 kabupaten dan kota di Riau telah mengalami kebakaran lahan dengan total luasan mencapai 1.041,74 hektare. Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah terdampak paling parah dengan luas lahan terbakar mencapai 612,30 hektare.

Wilayah lain yang juga mencatatkan angka kebakaran cukup luas adalah Kabupaten Bengkalis sebesar 201,01 hektare, disusul Indragiri Hilir 64,70 hektare, dan Kabupaten Siak 63,53 hektare. Daerah lainnya seperti Kepulauan Meranti, Indragiri Hulu, Kuantan Singingi, Rokan Hilir, Dumai, dan Pekanbaru juga mulai melaporkan kemunculan api.

BPBD terus mendorong penguatan koordinasi lintas sektor melibatkan TNI, Polri, Manggala Agni, hingga relawan dan dunia usaha. Upaya pembasahan lahan-lahan gambut yang rawan juga menjadi prioritas untuk menekan potensi kebakaran meluas sebelum memasuki puncak musim kemarau. ***