
JAKARTA - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memberikan respons atas rencana pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau. Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto menekankan pentingnya keselarasan antara rancangan fisik bangunan dan data kependudukan.
Dalam audiensi bersama jajaran Pemkab Kepulauan Meranti di Jakarta, Rabu (4/11/2026), Gogot menjelaskan bahwa konsep SNT akan menggabungkan jenjang Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) dalam satu kawasan terpadu. Model ini dinilai mengefisienkan sumber daya dan telah sukses diadaptasi oleh beberapa negara maju.
Meski mengadopsi model kawasan pendidikan terpusat layaknya di London, ia mengingatkan bahwa cetak biru penerapannya di Indonesia tidak bisa disamaratakan begitu saja. Setiap daerah memiliki tantangan geografis dan fluktuasi angka kelahiran yang wajib dihitung secara matang oleh instansi daerah.
Gogot menyoroti fenomena menurunnya jumlah peserta didik di berbagai daerah yang berimbas pada kosongnya ruang-ruang kelas yang sudah telanjur dibangun. Perencanaan tata ruang pendidikan yang tergesa-gesa berpotensi menyebabkan anggaran menguap percuma jika kelak tidak diisi oleh jumlah murid yang memadai.
Sebagai bahan perbandingan, ia mengambil contoh fenomena penyusutan murid sekolah negeri di Pulau Jawa, tepatnya di Kota Yogyakarta. Fakta di lapangan menunjukkan adanya ketidakseimbangan antara kapasitas gedung lama dan rasio anak usia sekolah terkini.
"Pada tahun ajaran 2026, terdapat enam SD negeri di Kota Yogyakarta yang memiliki jumlah murid kelas I kurang dari 10 orang," bebernya di hadapan para delegasi daerah.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perencanaan pembangunan pendidikan perlu memperhatikan tidak hanya aspek infrastruktur semata. Keberadaan fasilitas sekolah harus diukur berdasarkan rasio jumlah peserta didik, arah persebaran penduduk, dan efektivitas pemanfaatan ruang belajar. ***