
BENGKALIS, GORIAU.COM - Akibat kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Dusun Bukit Lengkung, Desa Tanjung Leban, Kecamatan Bukitbatu, Kabupaten Bengkalis, puluhan kepala keluarga (KK) diungsikan di barak-barak yang disediakan Pemkab Bengkalis. Kini persoalan baru pun muncul, sebanyak 24 bayi lima tahun (balita) mulai terserang diare dikarenakan kurangnya pasokan air bersih.
Saat ini ada 125 jiwa yang mengungsi, terdiri dari 24 balita, 18 anak-anak di atas 6 tahun dan 83 dewasa. Sementara 25 KK lagi tidak mau mengungsi dan memilih bertahan di rumahnya guna menjaga harta benda mereka.
Selain air bersih, pengungsi juga membutuhkan tempat tidur yang layak dan MCK. Memang di lokasi ada mobil ambulance dan dokter yang berjaga-jaga membantu para pengungsi.
Sartini (34) warga Dusun Bukit Lengkung, mengaku sudah 4 hari mereka mengungsi di tenda-tenda yang telah disediakan Badan Penanggulangan Bencana Daerah-Pemadam Kebakaran (BPBD-Damkar) Kabupaten Bengkalis. Ia juga mengatakan, bahwa warga yang mengungsi saat ini meliputi warga Kabupaten Bengkalis dan Kota Dumai.
"Kita berharap ada bantuan air bersih untuk minum," ungkap Sartini sambil menggendong anaknya yang masih balita, Selasa (25/2) sore.
Sehari sebelumnya, Bupati Bengkalis H. Herliyan Saleh dan Kapolres Bengkalis Andry Wibowo turun meninjau lokasi dan melihat kondisi pengungsi di barak. Ketika meninjau para pengungsi Bupati tampak sedih, terutama melihat banyak balita dan anak-anak yang harus berjuang melawan ganasnya asap akibat karhutla.
"Kita sudah menyalurkan bantuan obat-obatan, makan, susu bayi, perlengkapan untuk keluarga dan juga lainnya," ungkap Bupati.
Bupati juga berharap perusahaan peduli terhadap karhutla yang terjadi saat ini, karena bukan hanya lahan masyarakat yang terbakar, tetapi lahan perusahaan pun ikut terbakar.
"Kita ingatkan kepada masyarakat di pengungsian untuk menjaga kesehatan. Kita pun akan terus mengirimkan bantuan kebutuhan para pengungsi. Kita sama-sama berdoa agar hujan bisa turun Bengkalis," harap Bupati.(jfk)