
PEKANBARU - Kapolda Riau, Irjen Pol Agung Setya Imam Effendi memaparkan penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) sampai tahun lalu masih terkendala kurangnya jumlah personil. Menurutnya, jika ingin penanganan Karhutla maksimal, dengan luas lahan gambut di Riau, setidaknya dibutuhkan 15.000 orang.
"Kalau ingin ideal dengan luas lahan yang ada di Riau, untuk persiapan dan penanganan Karhutla, kita memerlukan setidaknya 15.000 orang. Jumlah itu harus sudah siaga dilapangan," paparnya dalam agenda rapat antisipasi Karhutla di Riau, Senin, (6/1/2020).
Ia menjelaskan, saat ini sudah ada beberapa daerah di Riau yang mengalami kebakaran lahan, diantaranya Kabupaten Siak, Dumai dan Bengkalis. Ia mencontohkan, kurangnya personel dalam upaya pemadaman kebakaran terjadi di Siak.
"2020 kita ingin tidak ada api, tetapi faktanya sudah ada. Di Siak terjadi kebakaran, yang datang hanya 11 personil, itu sangat kurang," paparnya.
Selain itu, Agung mengakui bahwa perusahaan-perusahaan telah menunjukkan rasa pedulinya dengan Karhutla, dengan menyediakan petugas-petugas untuk antisipasi Karhutla. Namun, faktanya tetap belum mencukupi jumlah 15.000 orang tersebut.
Sementara itu, ia juga memaparkan bahwa persoalan Karhutla menjadi lebih rumit karena banyaknya persoalan lahan.
"Informasi dari Pak Gubernur beberapa waktu lalu ada 2,4 juta lahan sawit, 1,2 juta belum bayar PBB. Kita harus introspeksi ini dan jangan ditutupi, selesaikan satu- satu," ujarnya.
Selanjutnya, Agung juga membahas tentang sengketa lahan di Riau yang menyebabkan banyak permasalahan lainnya.
"Ada juga permasalahan sengketa lahan yang dimana terjadi premanisme, pendudukan lahan, unjuk rasa, dan anarkisme. Tahun 2019 ada 143 kasus sengketa lahan, dan pencurian Tandan Buah Segar (TBS) dengan 188 kasus," terangnya.
"Kita harus objektif, kalau kita ingin keluar dari masalah (Karhutla) ini. Kita harus bekerja bersama-sama," pungkasnya.***