
PEKANBARU - Letak geografis Provinsi Riau memang strategis karena bertetangga dekat dengan dua negara Asean, yakni Malaysia dan Singapura. Sebelum memasuki era Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), sesungguhnya secara tidak langsung Riau telah terbiasa berhubungan dengan kedua negara tersebut.
Hal itu pun menjadi bahan renungan Ketua Dewan Harian Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau, Al Azhar. Jika sebelumnya hanya dua negara yang berhubungan dengan Riau, maka era MEA ini akan ada 9 negara yang mencoba ikut meraih peruntungannya di Riau.
"Pada era pasar bebas Asean ini, masyarakat Riau harus menjadi pemain, bukan cuma untuk bertahan ditengah-tengah arus MEA. Itu yang menjadi PR pemerintah untuk membina sumber daya manusia (SDM) Riau. Dengan Malaysia dan Singapura secara tidak langsung kita sudah terbiasa, lalu bagaimana strategi kita untuk bersaing dengan negara lainnya," ungkapnya kepada GoRiau.com, Kamis (7/1/2016) di Pekanbaru.
Menurutnya, masyarakat Riau harus mendapat binaan dalam bentuk pengembangan skill. Sementara untuk generasi muda, LAM Riau meminta dunia pendidikan dijadikan prioritas karena berawal dari pendidikan akan terlahirlah generasi muda yang berkompeten, santun dan siap menghadapi persaingan diera perkembangan zaman.
"Mutu pendidikan harus ditingkatkan, baik itu kuantitas dan kualitasnya. Anak-anak di Riau berhak mengenyam pendidikan berkualitas untuk bekal masa depan mereka," pinta Al Azhar.
Ia juga mengimbau agar masyarakat Riau tetap menjaga identitas diri sebagai insan Melayu yang santun, karena MEA bisa saja membawa pengaruh budaya asing.
"Bagaimanapun perkembangan zaman, kita harus tetap ingat jati diri kita sebagai orang Melayu yang berbudi pekerti santun," tutupnya. ***