
PEKANBARU, GORIAU.COM - Pemerintah Jepang menawarkan kerjasama pengelolaan lahan gambut di Riau. Kerjasama ini lebih kepada bagaimanana mengoptimalkan lahan yang cukup luas di Riau bisa berdaya guna tinggi. Salah satu solusi yang ditawarkan dengan budidaya sorgum.
Kerjasama tersebut terungkap saat Konsulat Malaysia di Medan, Yuji Hamada mengunjungi Wakil Gubernur Riau (Wagubri), H Arsyadjuliandi Rachman, di Kantor Gubernur Riau, Selasa (25/3/2014).
"Kita tawarkan kerjasama untuk pengelolaan lahan gambut menjadi budidaya sorgum. Agar nantinya bisa memaksimalkan lahan tersebut," jelas Yuji Hamada.
Selain itu, budidaya sorgum itu sendiri juga bertujuan untuk mengantisipasi terjadinya kebakaran yang terus-menerus setiap tahunnya. Dengan ini, Pemerintah Jepang mengandalkan semua peralatan yang memadai.
Sorgum memiliki potensi besar untuk dikembangkan di daerah rawan kekeringan, mendukung peningkatan produktifitas lahan kosong, lahan marjinal dan lahan non-produktif lainnya. Sorgum ditanam dengan sistem ratun sehingga tanaman dapat dipanen dua sampai tiga kali untuk sekali tanam saja.
Waktu Tanam Sorgum dapat ditanam pada sembarang musim tanam asalkan pada saat tanaman muda tidak tergenang atau kekeringan. Namun begitu waktu tanam yang paling baik adalah pada akhir musim hujan atau awal musim kemarau.
Keunggulan sorgum terletak pada sifat ketahanan terhadap kekeringan, produksi tinggi, biaya relatif murah serta lebih tahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman dibanding tanaman pangan lain.
Biji sorgum dapat dijadikan tepung sorgum atau disosoh menjadi beras sorgum yang kemudian dimasak menjadi nasi sorgum atau bubur sorgum. Sorgum dapat bertoleransi pada keadaan yang panas dan kering, tetapi juga dapat tumbuh pada daerah yang bercurah hujan tinggi atau tempat-tempat yang bergenang.
Penggunaan sorgum sangat beragam, tetapi secara garis besar dapat digolongkan menjadi tiga kelompok yaitu sebagai bahan pangan, bahan pakan, dan bahan industri.***