
PEKANBARU, GORIAU.COM - Potensi besar perkebunan kelapa di Riau belum didukung industri hilir yang mampu meningkatkan nilai tambah produk perkebunan itu. Akibatnya, kelapa Riau belum mampu bersaing dan bernilai karena masih dijual dalam bentuk bulat.
Ketua Asosiasi Industri Sabut Kelapa Indonesia (AISKI) Riau Ady Indra Pawenari kepada wartawan, Selasa (29/1/2013) mengatakan, disaat hancurnya harga kelapa, semestinya pemerintah sadar pada potensi lain di buah kelapa. Namun sejauh ini, pemerintah belum niat bangun industri hilir itu.
"Semestinya pemerintah sadar. Bahwa ada potensi lain dari buah kelapa, namun sejauh ini belum tampak keseriusan dari pemerintah membangun industri hilir sabut kelapa. Padahal ini bisa membantu perekonomianya masyarakat perkebunan kelapa, serta memperkuat pondasi industri hulu menekan defisit perdagangan.
Belum ada kebijakan Pemerintah Riau, menjadi bukti, kata Indra, industri hulu berbasis pemanfaatan Sumber Daya Alam (SDA) lokal sebagai bahan bakunya tidak berkembang sebagaimana mestinya. Untuk itu sambungnya, AISKI Riau minta pada Pemerintah agar industri hulu tersebut jangan dibiarin 'berjalan pincang'.
"Bisa dilihat sendiri di Provinsi Riau ini. Sekarangkan di Riau belum tampak industri sabut kelapa. Artinyakan industri hulu dibiarkan 'berjalan pincang', dengan tanpa diimbangi pembangunan industri hilirnya. Padahal, diketahui saat ini di Riau ada beberapa daerah yang jadi potensi produk kelapa," katanya.
Di kesempatan itu Indra mengatakan, sebetulnya untuk tingkat nasional, masalah road map pengembangan industri sabut kelapa sudah pernah diterbitkan oleh Menteri Perindustrian ditahun 2010 ketika itu M.S Hidayat. Namun, disayangkan hal itu kurang ditangkap secara jeli oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Riau.
"Buktinya, road map tersebut tidak berjalan, karena penerapannya dilaksanakan tidak secara terpadu melalui lintas kementerian terkait," kata Indra sembari menegaskan, terhadap road map pengembangan industri sabut kelapa di Riau ini sebenarnya semua itu telah diatur melalui Peraturan Menteri Perindustrian.
Dalam road map itu, katanya diterapkan ada empat lokasi pengembangan industri sabut kelapa, yakni Kabupaten Indragiri Hilir, Kepulauan Meranti, Bengkalis, Pelalawan. Juga katanya, dijelaskan pengembangannya dilakukan dari industri hulu ke industri hilir. Sehingga bisa menciptakan lapangan kerja nantinya.
"Dari sabut kelapa ini bisa melahirkan produk unggulan seperti hal akan keberhasilan Srilanka dan India. Dimana pemanfaatan sabut kelapa bisa menjadi beberapa produk cukup populer diantaranya spring bed, matras, jok mobil, jok motor, bantal, karpet, tali, jaring, keset kaki, media tanam," terangnya. (rdi)