PEKANBARU - Kenaikan harga sejumlah kebutuhan harian seperti cabai merah hingga minyak goreng mendorong tingkat inflasi Provinsi Riau menyentuh angka 4,55 persen secara tahunan pada Juni 2026. Di sisi lain, daya beli petani justru mengalami kontraksi akibat pelemahan harga beberapa komoditas andalan perkebunan dan peternakan.

Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) Provinsi Riau, Adnan Wimbyarto, mengungkapkan inflasi bulanan Riau tercatat sebesar 0,35 persen. Angka ini dipicu oleh lonjakan harga bahan pokok dan biaya operasional masyarakat.

"Kenaikan harga terutama dipicu oleh komoditas cabai merah, minyak goreng, tomat, bensin, biaya pemeliharaan kendaraan pribadi, serta ikan patin," papar Adnan dalam rilis resminya, Kamis (30/7/2026).

Pemicu Kenaikan Harga

Meskipun ada lonjakan pada sejumlah barang pokok, pemerintah menilai angka inflasi tersebut belum masuk ke tahap krisis. Pengendalian pasokan di pasar tradisional dinilai masih seimbang dengan permintaan masyarakat.

Langkah-langkah strategis pemerintah daerah diharapkan bisa meredam volatilitas harga pangan agar tidak semakin membebani pengeluaran rumah tangga di kuartal berikutnya.

"Secara umum inflasi masih berada dalam rentang yang terkendali dan mendukung keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah," terangnya.

Dinamika Kesejahteraan Petani

Tantangan ekonomi yang lebih nyata justru terlihat pada sektor hulu. Indikator kesejahteraan petani, yang diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP), tercatat turun 6,62 persen menjadi 193,69 pada bulan Juni 2026. Penurunan daya beli ini dipicu oleh melemahnya harga komoditas berikut di pasaran:

  • Kelapa sawit
  • Kelapa
  • Ayam ras pedaging
  • Sapi potong
  • Nanas

Meskipun mengalami penurunan, Adnan memastikan bahwa posisi kesejahteraan petani Riau masih berada di level yang aman bila dibandingkan secara regional.

"Hal ini mencerminkan kuatnya nilai tukar petani terutama karena dominasi petani sawit rakyat dengan nilai komoditas yang tinggi. Saat ini Riau masih menjadi provinsi dengan NTP tertinggi kedua di Sumatera setelah Bengkulu, sedangkan Nilai Tukar Nelayan stabil di angka 109,02," tutup Adnan. ***