PEKANBARU - Ancaman kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Riau menunjukkan tren penurunan yang sangat positif, Jumat (31/7/2026). Berdasarkan pantauan satelit Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), jumlah titik panas atau hotspot di wilayah berjuluk Bumi Lancang Kuning ini menyusut tajam hingga hanya tersisa empat titik, seiring dengan kondisi cuaca yang cukup kondusif.

Forecaster on Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Gita Dewi S, merinci bahwa dari total 243 titik panas yang mengepung seluruh Pulau Sumatera hingga tengah malam tadi, Provinsi Sumatera Selatan menduduki peringkat tertinggi. Daerah tersebut mencatatkan sebaran mencapai 117 titik panas, disusul Bangka Belitung dengan 42 titik, dan Lampung 27 titik.

Lebih lanjut ia membeberkan sebaran di provinsi lainnya, yakni Aceh 17 titik, Sumatera Barat 11 titik, Bengkulu sembilan titik, Jambi sembilan titik, Sumatera Utara enam titik, Riau empat titik, dan Kepulauan Riau yang paling minim dengan hanya satu titik.

"Di Provinsi Riau sendiri, empat titik panas terdeteksi tersebar di dua wilayah, yakni Kota Dumai sebanyak tiga titik dan Kabupaten Pelalawan satu titik," terangnya.

Meskipun angka hotspot di Riau mengalami penurunan yang signifikan dibandingkan dengan provinsi tetangga, pihak otoritas menegaskan bahwa potensi kebakaran masih mengintai jika tidak ada langkah pencegahan kolektif dari masyarakat setempat. Cuaca yang sewaktu-waktu bisa terik kembali menjadi faktor pendorong utama.

"Meski cuaca relatif kondusif dan jumlah titik panas menurun, masyarakat tetap diimbau tidak melakukan pembakaran lahan serta terus memantau perkembangan informasi cuaca dari BMKG sebagai langkah antisipasi," tegasnya.

Upaya mitigasi dini dinilai jauh lebih efektif daripada penanggulangan saat api sudah membesar. Oleh karena itu, pengawasan ketat, khususnya di Kota Dumai yang menyumbang angka titik panas terbanyak di Riau hari ini, harus menjadi prioritas bersama aparat penegak hukum dan satuan tugas daerah.

"Masyarakat diharapkan tetap waspada, terutama bagi mereka yang banyak beraktivitas di luar ruangan maupun di kawasan yang rawan kebakaran hutan dan lahan," tukasnya. ***