PEKANBARU, GORIAU.COM - Kinerja Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) mendapat kritikan. Itu terkait maraknya politik uang diwaktu 24 jam sebelum pencoblosan atau yang dikenal "Serangan Fajar". Aktivis dari Forum Indonesia untuk Transparansi Anggaran (Fitra) menganggap lembaga ini masih sangat lemah.

"Pengawasana yang dilakukan oleh Bawaslu masih sangat lemah, sehingga mereka tidak bisa meminimalsiasi kejadian itu (Serangan Fajar)," kata Koordinator Fitra Riau, Usman, kepada pers di Pekanbaru, Rabu (9/4/2014).Hal itu menurut dia dilihat dari maraknya praktik politik uang sehari sebelum pemungutan suara pada Pemilihan Umum Legislatif 2014.Fitra mengakui telah menemukan praktik pemberian uang atau barang oleh partai dan calon legislator di berbagai wilayah kabupaten/kota, namun tidak ada upaya dari Bawaslu atau panitia pengawas di tingkat kabupaten/kota."Metinya Bawaslu atau Panwaslu memiliki strategi untuk mengantisipasi politik uang dengan istilah Serangan Fajar ini. Karena praktik seperti ini diterapkan banyak parpol dan caleg atau calon pemimpin daerah disetiap jelang pemungutan suara," katanya.Bawaslu menurut dia juga seharusnya bisa menghimpun informasi dari masyarakat terkait praktik-prakti yang diharamkan itu.Harusnya, kata dia, juga ada pemantauan yang ekstra sehingga tidak terkesan adanya pembiaran. (fzr/ant)