Tuuuummm...!!! Suara ledakan meriam karbit menggema di sepanjang arena pacu jalur Tepian Rajo, Kecamatan Pangean, Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau menyusul jatuhnya bendera merah. Ribuan pasang mata langsung tertuju ke dua jalur yang sedang berpacu, yakni Juragan Kuantan 2024 dan Rajo Bujang.

Hasil undian partai final menempatkan Juragan Kuantan berada di jalan sebelah kiri dan Rajo Bujang di jalan sebelah kanan.

"Rajooo... Rajooo... Rajoo...!!!"
"Juragaaaannn... Juragaaannn... Juragaaannn..!!!"
Sorak-sorai penonton bersahut-sahutan di kedua sisi tebing Sungai Kuantan, memberi semangat untuk jalur yang memperebutkan gelar juara pada Senin (10/6/2024) petang.

Seketika itu, Alvino langsung berdiri di haluan jalur Rajo Bujang. Bocah 12 tahun ini dengan percaya diri menari-nari bak seorang peselancar yang sedang menunggangi ombak. Tangannya meliuk-liuk tatkala melihat haluan jalur Juragan Kuantan berada di belakang, memberi sinyal kepada penonton bahwa Rajo Bujang unggul.

Tariannya semakin indah di bawah kembang api yang berpijar menghiasi langit jingga. Alvino lihai menari di atas jalur yang sedang menjalar di air, sebab ia selalu berlatih. Sosok Alvino bukanlah orang asing di dunia pacu jalur. Tariannya selalu memukau penonton. Berkat itu, Alvino pernah menjadi bintang tamu TV nasional dan menghiasi layar kaca.

Saat bersamaan, Mahviyen Trikon Putra selaku timbo ruang tak henti-hentinya memberi aba-aba kepada 55 anak pacu yang mendayung Rajo Bujang. Ia tampak fokus, sembari sesekali melihat Andi Zulfitri selaku timbo ruang jalur Juragan Kuantan.

Mahviyen berusaha untuk tetap fokus, meskipun ketegangan terlihat di wajahnya. Terlebih, pada pertemuan sebelumnya, Rajo Bujang kalah oleh Juragan Kuantan di Tepian Pantai Lubukterentang.

Kini, Rajo Bujang berpacu di depan pendukung sendiri, tentunya Mahviyen bertekad untuk mempertahankan gelar juara.

"Dalam, dalam, fokus, pasti," teriak Mahviyen di tengah deburan pengayuh.

Perintah Mahviyen sayup-sayup terdengar oleh Juhad, Kanedi dan Suhar. Ketiganya merupakan kemudi yang bertugas meluruskan arah jalur, supaya tetap berada di jalannya.

Gelanggang Tepian Rajo terbilang cukup sulit, karena lintasan berbelok ke kanan dari pancang start menuju pancang ketiga, setelah itu lurus hingga pancang ke-6 atau garis finis yang berada di hilir.

Ketika Juhad mengendalikan arah jalur, Rafly sebagai tukang onjai juga memberikan masukan arah jalur. Bocah 12 tahun ini berdiri paling belakang dekat selembayung, matanya leluasa memandang jalan yang akan dituju.

Juragan Kuantan yang berada di jalan kiri mencoba mengejar ketertinggalan. Andi Zulfitri mengentakkan tongkat di tangannya sebagai isyarat untuk menambah kecepatan.

Memasuki pancang pemisah ke-3, dua bocah yakni togak luan atau tukang tari dan tukang onjai Juragan Kuantan melompat dari jalur. Itu dilakukan untuk menambah kecepatan.

Melihat itu, Mahviyen juga ikut mengentakkan tongkat ke jalur, anak pacu langsung menambah tenaga. Usaha itu dilakukan agar Rajo Bujang tetap berada di depan.

Memasuki pancang terakhir, Mahviyen meniup peluit secara bertubi-tubi. Seluruh anak pacu meningkatkan intensitas mendayung dan Alvino tetap berdiri menari di haluan Rajo Bujang.

Ketika menembus garis finis, Alvino mengenakan baju melayu berwarna kuning langsung sujud di haluan jalur. Perlombaan antara Juragan Kuantan dan Rajo Bujang di arena sepanjang 850 meter ini selesai dalam waktu 2 menit 10 detik.

Kedua jalur langsung berputar dan merapat ke dewan hakim guna mendengarkan keputusan dewan hakim.

"Juragan Kuantan Inspektorat Kuansing dari Desa Seberang Gunung jalan sebelah kiri, berhadapan dengan Rajo Bujang PT RAPP dari Desa Padangtanggung, yang menang adalah Rajo Bujang," bunyi petikan keputusan dewan hakim yang dibacakan Syakarni.

Mendengar keputusan itu, seluruh anak pacu Rajo Bujang terlihat semringah. Jalur kebanggaan masyarakat Desa Padangtanggung ini sudah menorehkan titel juara ke-9-nya sejak dibuat pada tahun 2004.

Anak pacu Juragan Kuantan langsung menyambut sang juara dengan tepuk tangan. Mereka saling berangkulan di bawah komando Andi Zulfitri dan Mahviyen.

"Inilah pacu jalur, tadi dari pancang start hingga finis kedua jalur berlawanan, setelah itu kembali berangkulan. Selamat untuk kedua jalur, anda adalah pemenang," ujar Darwis yang sejak hari pertama menjadi komentator di Tepian Rajo. 

*** 

Festival pacu jalur Kecamatan Pangean berlangsung selama tiga hari yang diikuti 102 jalur. Peserta tidak hanya dari Kabupaten Kuansing, tapi juga datang dari Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

Pada tanggal 7 Juni 2024, panitia pelaksana melaksanakan rapat teknis bersama perwakilan jalur. Saat itu, dilakukan pengundian guna menentukan jalan dan lawan.Panitia sudah menyiapkan bola pingpong sebanyak peserta yang mendaftar. Di dalamnya berisi kertas bertuliskan nomor dan jalan, seperti 1 kiri dan 1 kanan.

Bola yang berada di dalam baskom diaduk, kemudian perwakilan jalur dipanggil satu per satu berdasarkan nomor urut pendaftaran. Kemudian, nama-nama jalur akan ditempatkan sesuai dengan nomor undian yang dicabut. Hasil inilah menjadi daftar aduan untuk babak penyisihan di hari pertama.

Pacu jalur menerapkan sistem gugur. Dari babak penyisihan pertama ini, hanya ada 51 jalur yang melaju ke hari kedua. Jika jumlah jalur ganjil, maka panitia menyiapkan undian bay, otomatis jalur yang beruntung melaju ke babak selanjutnya.

Hari pertama berlangsung satu putaran, sedangkan hari kedua ada dua putaran. Hasil dari putaran kedua hari kedua ini akan melaju ke hari ketiga.

Di Tepian Rajo, hanya ada 13 jalur yang melaju ke hari ketiga. Jalur-jalur ini kembali bertarung untuk mendapatkan tiket perempat final. Dari 13 jalur, tujuh jalur melaju ke babak perempat final. Karena hadiah yang disediakan Pemkab Kuansing dari juara 1 hingga 10, maka enam jalur yang kalah mengikuti pengundian nomor urut juara, memperebutkan juara 8, 9 dan 10.

Sedangkan, tujuh jalur kembali diundi dan berpacu memperebutkan tiket semifinal. Jalur yang kalah pada putaran perempat final akan diundi untuk menentukan juara 5, 6 dan 7. Begitu juga pada babak semifinal, jalur yang kalah diundi untuk memperebutkan juara 3 dan 4. Sedangkan untuk penentuan juara 1 dan 2, jalur finalis berpacu adu cepat.

Sistem perlombaan ini berlaku untuk seluruh arena, mulai dari tingkat kecamatan hingga event nasional di Tepian Narosa Telukkuantan.

Dari Tradisi Menjadi Ajang Pariwisata

GoRiau Bupati Kuansing menjadi timbo
Bupati Kuansing menjadi timbo ruang jalur saat berlomba di Tepian Narosa. (foto: ist)

Pacu jalur merupakan perlombaan perahu panjang di Sungai Kuantan, Kabupaten Kuansing, Provinsi Riau. Perahu ini terbuat dari sebatang pohon dengan panjang berkisar 30 hingga 40 meter.

Sungai Kuantan membentang dari Sumatera Barat (Sumbar) hingga ke Selat Malaka. Sungai ini menjadi pusat peradaban masyarakat Kuantan. Untuk mempermudah transportasi, mereka membuat perahu panjang. Perahu ini diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17.

"Perahu ini digunakan sebagai alat transportasi. Ketika musim panen tiba, masyarakat mengangkut hasil panen dari ladang ke kampung. Kemudian, sore hari berlomba-lomba untuk sampai lebih cepat," kata Azhar, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kuansing pada 7 Juni 2024 di Telukkuantan.

Kegiatan perlombaan itu dilakukan secara turun temurun oleh masyarakat Kuantan. Acara puncak dilaksanakan setiap hari raya Idul Fitri sekaligus luapan rasa syukur atas hasil panen yang melimpah.

Hingga akhirnya masuk Belanda, pacu jalur dilaksanakan dalam rangka memperingati hari ulang tahun Ratu Wihelmina yang jatuh pada 31 Agustus.

Pelaksanaan perlombaan perahu panjang pertama kali dilaksanakan di Tepian Lubuok Sobae yang secara administratif terletak di Kecamatan Kuantan Hilir. Kala itu, hadiah yang diperebutkan berupa minyak tanah.

Event pacu jalur sempat terhenti beberapa tahun, dimulai ketika Jepang menjajah Indonesia hingga agresi militer Belanda.

"Pasca Indonesia merdeka, pacu jalur dilaksanakan untuk memeriahkan hari kemerdekaan. Event nasionalnya dilaksanakan setiap bulan Agustus," kata Azhar.

Awal-awal kemerdekaan, hadiah yang diperebutkan adalah hewan ternak, berupa kerbau, sapi dan kambing. Kini, hadiah yang disediakan Pemkab Kuansing berupa uang tunai sebesar harga hewan ternak.

Pada event kecamatan, total hadiah yang disiapkan pemerintah senilai Rp60-an juta, dengan rincian juara I Rp17 juta, juara II Rp15 juta, juara III Rp13 juta dan hingga juara X senilai Rp3 juta.

"Dulu, event ini hanya diikuti oleh desa-desa yang ada di Kuansing. Hingga tahun 1990-an, ada peserta dari Rengat. Hingga kini jalur dari Inhu selalu hadir ke Tepian Narosa," ujar Azhar.

Kabupaten Kuansing terdiri atas 15 kecamatan yang berisi 218 desa dan 11 kelurahan. Desa-desa yang berada di pinggir Sungai Kuantan memiliki jalur.

"Hanya tiga kecamatan yang tidak memiliki jalur, yakni Singingi, Singingi Hilir dan Pucukrantau. Sebab, ketiga kecamatan ini jauh dari Sungai Kuantan," kata Azhar.

Bagi masyarakat Kuansing, jalur merupakan marwah kampung yang harus dijaga. Jika tidak ikut berlomba, maka masyarakat tersebut akan sangat malu.

"Pacu jalur ini marwah kampung yang harus dijaga. Meski pun mereka sadar tidak akan menang, tapi mereka harus tampil di arena, begitulah kecintaan masyarakat terhadap jalur," kata Azhar.

Tidak mudah membuat jalur. Proses pembuatan jalur bisa berlangsung berbulan-bulan. Dimulai dari pencarian kayu di hutan, membawanya ke kampung, hingga menjadi sebuah jalur.

"Jalur ini dibuat secara gotong royong oleh masyarakat. Mulai pencarian kayu ke hutan, pilih kayu yang besar, dibawa ke kampung. Dulu proses penarikan kayu jalur istilah maelo kayu jalur memakan waktu berbulan-bulan, karena ditarik manual. Kalau sekarang sudah pakai alat berat," papar Azhar.

Kendati saat ini sudah canggih, masyarakat Kuansing masih kesulitan membuat jalur. Penyebabnya, semakin sulit mendapatkan kayu besar dan panjang. Kayu khusus untuk jalur hanya berada di kawasan hutan lindung Bukit Betabuh dan hutan lindung Sentajo.

Biaya untuk mencari hingga mengeluarkan kayu dari Bukit Betabuh mencapai Rp80 juta. Kemudian, upah tukang berkisar Rp35 juta. Rata-rata, biaya pembuatan jalur mencapai Rp120 juta. Karena besarnya biaya pembuatan, Pemkab Kuansing menyiapkan bantuan Rp50 juta untuk setiap jalur baru.

Setelah tual kayu menjadi perahu, proses selanjutnya adalah pelayuran. Perahu dibakar di atas api supaya mengembang hingga diameter mencapai 100 cm. Proses pelayuran jalur memakan waktu satu malam.

Jalur yang sudah dilayur dipasang kayu penyanggah. Papan penyanggah ini disebut ular-ular, juga berfungsi sebagai tempat duduk anak pacu.

"Usai dilayur, jalur ini akan dicat dan diberi lukisan. Ketika berada di atas air, lukisan di jalur akan terlihat indah. Kemudian, jalur diberi selembayung di bagian kemudi. Selembayung ini dihiasi dengan seni ukir dan lukis," terang Azhar.

Keunikan lain adalah jalur memiliki telinga. Sepasang telinga jalur terletak di haluan dan kemudi, total ada empat telinga. Inilah yang membedakan jalur dengan perahu lainnya.

Pada event nasional di Tepian Narosa, pacu jalur tidak hanya sekedar adu cepat. Panitia juga melaksanakan kontes jalur dengan beberapa kategori, seperti motif jalur, tukang tari, timbo ruang dan tukang onjai.

"Festival pacu jalur tidak hanya adu cepat, tapi juga adu cantik. Jalur dengan motif terindah kita beri hadiah," kata Azhar.

Seiring pelestarian budaya, Pemkab Kuansing juga melestarikan kayu jalur. Caranya, Pemkab Kuansing membatasi desa yang membuat jalur baru, hanya boleh satu kali dalam setahun.

Kemudian, Pemkab Kuansing juga menyiapkan aturan setiap kayu yang ditebang harus diganti. "Masyarakat menanam pohon di lokasi kayu yang ditebang," kata Azhar.

KEN dan Ekonomi Kerakyatan

GoRiau Kepala Disbudpar Kuansing Azha
Kepala Disbudpar Kuansing Azhar bersama komentator pacu jalur Darwis saat temu ramah dengan PWI Riau. (foto: diskominfo ks)

Festival pacu jalur ditetapkan sebagai top 10 Kharisma Event Nusantara (KEN) yang ditetapkan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Republik Indonesia tahun 2024. Event nasional akan dilaksanakan di Tepian Narosa Telukkuantan pada 21 - 25 Agustus 2024.

Kali ini, Pemkab Kuansing menarget wisatawan sebanyak 1,7 juta orang. Angka tersebut mengacu pada kunjungan tahun lalu. Berdasarkan data yang dirilis Disbudpar Kuansing, jumlah penonton festival pacu jalur sebanyak 1,7 juta orang. Rinciannya, hari pertama sebanyak 255 ribu orang, hari kedua 367,8 ribu orang, hari ketiga 337,3 ribu orang, hari keempat 378,5 ribu orang dan hari kelima 381 ribu orang.

Tingginya jumlah penonton, tidak tertampung di Tepian Narosa. Karena itu, Pemkab Kuansing memberdayakan masyarakat setempat untuk membuat tribun mandiri.

Sejalan dengan KEN, Pemkab Kuansing telah mengajukan anggaran sebesar Rp33 miliar ke pemerintah pusat untuk pembangunan arena pacu jalur Tepian Narosa. Upaya ini juga untuk penataan Tepian Narosa agar lebih baik.

"Tentunya, kita sangat berharap anggaran ini disetujui oleh pemerintah pusat, karena festival pacu jalur masuk KEN," kata Azhar.

Dikatakan Azhar, dengan jumlah penonton yang mencapai 1,7 juta orang, menjadi momentum untuk menggerakkan roda perekonomian. Pemerintah menyediakan tempat bagi pelaku UMKM lokal dan yang datang dari luar lewat Pacu Jalur Expo.

"UMKM lokal ini juga kita beri subsidi. Tahun lalu, ada 790 orang UMKM lokal," kata Azhar. Sedangkan UMKM dari luar berkisar sekitar 450 orang dan pedagang lainnya sekitar 2.323 orang. Omzet pelaku UMKM atau pedagang diperkirakan sekitar Rp2 juta sampai Rp4 juta per hari.

Pembinaan yang dilakukan Pemkab Kuansing tidak hanya kepada para pelaku UMKM, tetapi juga kepada warga tempatan untuk menyediakan homestay. Langkah ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan penginapan pengunjung.

"Kita latih masyarakat, bagaimana mengelola homestay, sehingga rumah-rumah penduduk bisa jadi tempat penginapan wisatawan," kata Azhar.

Saat ini, jumlah kamar hotel di Kuansing baru sebanyak 427 kamar. Kapasitas hotel di Kuansing jelas tidak mampu menampung wisatawan yang ada. Karena itu dikembangkan homestay yang sudah mencapai 75 unit.

"Berbicara perputaran uang saat festival pacu jalur, data dari BPS tahun lalu senilai Rp90 miliar. Estimasi ini berasal dari perputaran uang pengunjung mencapai 86 miliar, uang kamar hotel dan homestay sekitar Rp1,3 miliar dan perputaran uang restoran senilai Rp3,5 miliar," papar Azhar.

Selain itu, masyarakat tempatan juga panen cuan lewat usaha tempat parkir. Menurut Azhar, kantong parkir yang dikelola pemerintah tidak mampu menampung jumlah kendaraan. Karena itu, masyarakat memanfaatkan pekarangan rumah sebagai lokasi parkir.

"Kalau tarif parkir yang dikelola pemerintah, nilainya sudah ditentukan. Nah, kalau lahan pribadi ini kita selalu mengimbau pengelola agar memasang tarif yang wajar," kata Azhar.

Promosi dan Inovasi Pengelolaan Festival Pacu Jalur

GoRiau Desain Pacu Jalur Expo 2024 ya
Desain Pacu Jalur Expo 2024 yang akan menampilkan produk UMKM lokal di arena Tepian Narosa Telukkuantan. (foto: ist)

Festival pacu jalur punya potensi yang sangat bagus untuk kemajuan pariwisata di Riau. Event ini diharapkan tidak hanya menjadi ivennya orang Kuansing atau Riau, tapi bisa dijual ke luar daerah atau ke luar negeri.

Kenyataannya, event budaya masyarakat Kuansing belum diminati oleh wisatawan mancanegara.

Osvian Putra, Master Asesor Pariwisata, melihat titik persoalannya terletak pada segi promosi. Ia menilai upaya promosi pacu jalur yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kuansing belum tepat sasaran.

"Saya melihat, upaya mempromosikan sudah ada, cuma apakah promosi sudah tepat atau belum, dengan cara benar dan target market yang benar? Kalau misalnya tahun ini juga tidak ada wisatawan asing, berarti cara promosi dan target kita tidak tepat," kata Osvian, Selasa (9/7/2024).

Menurutnya, pacu jalur punya nilai jual dan bisa mendatangkan wisatawan mancanegara. Strategi yang perlu dikembangkan oleh Pemkab Kuansing yakni mempromosikannya ke negara yang banyak keturunan Kuansing.

"Seperti Malaysia, itu sasaran yang pas. Kalau kita bicara mancanegara, kita harus realistis. Pesawat dari luar negeri langsung ke Riau, cuma dari Malaysia," kata Osvian.

Kemudian, di Malaysia sangat banyak orang Kuansing atau keturunan orang Kuansing yang sudah menjadi warga negara Malaysia. Kondisi ini bisa dimanfaatkan oleh Pemkab Kuansing untuk mempromosi pacu jalur lewat jaringan keturunan.

"Di mana banyak orang Kuansing di Malaysia, bikin acara beberapa titik, dan saya pikir ini jauh lebih efektif. Selama ini, itu yang belum dilakukan, atau sudah pernah tapi tidak melibatkan orang kompeten," kata Osvian.

Dalam hal pengelolaan event pacu jalur, Osvian menyatakan Pemkab Kuansing harus meningkatkan kenyamanan pengunjung. Dimulai dari penataan parkir yang jauh dari arena, ditambah dengan mahalnya tarif parkir.

"Tarif parkir lumayan tu, sebenarnya orang mau saja bayar, tapi ada aturan baku. Belum lagi lokasi yang jauh, kita harus jalan kaki sampai sekilo," kata Osvian.

Kemudian, Pemkab Kuansing harus melakukan kreasi dalam penataan tribun penonton. Terutama tribun yang didirikan oleh masyarakat, dari dulu hingga sekarang, arena Tepian Narosa selalu ditutupi terpal biru. "Apakah tidak ada kreasi lagi?"

"Kalau misalnya, kita mau nonton dan sudah ada nomor kursinya. Sehingga, pengunjung yang sudah booking, mereka tahu tempat duduknya, itu lebih bagus," ujar Osvian.

Dalam hal ini, Pemkab Kuansing perlu membuat inovasi dalam penataan penonton. Menurut Osvian, anak-anak muda Kuansing sudah canggih dan ia yakin mereka mampu mengembangkan aplikasi reservasi tiket nonton pacu jalur. Sentuhan digital sangat penting dalam pengembangan pariwisata.

"Membuat aplikasi ini tidak sulit, hanya saja belum pernah dilakukan. Apakah karena generasi muda tak bergerak atau tidak diberi kesempatan oleh seniornya," kata Osvian.

Lewat aplikasi, lanjut Osvian, bisa juga menjual harga tiket berdasarkan kelasnya. Misal, kategori VIP berada di bangku paling depan dijual dengan harga Rp250 ribu, paketnya makan, minum dan baju kaos pacu jalur.

"Makan diambil dari UMKM, baju kaos juga begitu, sehingga UMKM-nya jalan juga. Kreativitas ini belum ada," kata Osvian.

Dengan meningkatkan rasa kenyamanan, tentunya wisatawan akan berdatangan menonton pacu jalur. Mereka bersorak-sorai menonton Rajo Bujang dan jalur lainnya berpacu. Hingga rasa lapar datang, mereka makan minum di lapak yang berjejer di arena pacu jalur. Tidak hanya itu, wisatawan juga akan menginap dan berbelanja oleh-oleh khas Kuansing sebagai buah tangan saat pulang.***