PEKANBARU – Larangan perpisahan sekolah di luar lingkungan sekolah kembali mencuat sebagai polemik yang hangat diperbincangkan. Pemerintah Provinsi Riau mengimbau agar seremoni tahunan itu tidak digelar di gedung mewah, hotel berbintang, atau destinasi wisata demi menghindari beban biaya bagi orang tua siswa.

Namun, menurut Ekonom Senior Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, perpisahan siswa, khususnya di tingkat SLTA, juga membawa dampak ekonomi bagi sektor jasa dan pelaku usaha lokal.

“Kalau dilihat dari sudut pandang ekonomi regional, kegiatan seperti ini bisa mendorong perputaran uang dan menciptakan efek berganda,” ujar Dahlan ketika dihubungi, Jumat (2/5/2025).

Ia menyebutkan, kegiatan perpisahan di luar sekolah memberi kontribusi pada sektor perhotelan, penyewaan gedung, transportasi, hingga membuka lapangan kerja temporer seperti tenaga dekorasi, pramusaji, dan petugas parkir.

“Kegiatan ini juga bisa menjadi ajang promosi daerah bila dilakukan di tempat-tempat ikonik atau lokasi wisata. Itu nilai tambahnya,” lanjutnya.

Meski demikian, Dahlan tak menutup mata terhadap dampak negatif dari perpisahan yang cenderung mewah. Ia menilai, perayaan seperti itu sering kali berubah menjadi ajang prestise yang membebani keluarga siswa, khususnya dari kalangan ekonomi menengah ke bawah.

“Biaya acara, baju seragam, transportasi, bahkan penginapan untuk keluarga dari luar kota bisa menjadi beban pengeluaran yang berat,” jelasnya.

Tekanan finansial tersebut, menurut Dahlan, bisa menciptakan kesenjangan sosial dan psikologis. Siswa dari keluarga tidak mampu berisiko merasa terasing karena tidak bisa mengikuti standar konsumsi yang ditetapkan oleh kelompok.

“Pengeluaran untuk perpisahan bisa mengganggu alokasi anggaran rumah tangga untuk kebutuhan lebih penting, seperti pendidikan lanjutan, kebutuhan sehari-hari, atau kesehatan,” tambahnya.

Karena itu, ia mendorong sekolah dan komite untuk merancang konsep kegiatan yang lebih inklusif dan terjangkau. Menurut Dahlan, makna perpisahan tidak harus terletak pada kemewahan, melainkan pada simbol transisi pendidikan dan relasi sosial antar siswa.

“Kalau dilakukan di sekolah dengan konsep sederhana dan melibatkan kreativitas siswa, saya kira itu tetap bisa berkesan,” ujarnya.

Ia pun menilai surat edaran dari instansi pemerintahan yang melarang perpisahan di luar sekolah sebagai langkah yang tepat dan berpihak pada realitas ekonomi keluarga siswa.

“Penting untuk menyeimbangkan keinginan membuat acara berkesan dengan kemampuan ekonomi seluruh keluarga siswa,” katanya.

Dahlan juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan dana kegiatan perpisahan.

“Orang tua berhak tahu ke mana uang mereka digunakan. Itu soal kepercayaan,” tambahnya.

Ia berharap sekolah dan komite dapat menyusun konsep kegiatan perpisahan yang tidak hanya layak secara ekonomi, tetapi juga mendidik secara sosial.

“Penekanan pada nilai kebersamaan, kesederhanaan, dan makna transisi pendidikan perlu dikedepankan dibandingkan kemewahan dan formalitas yang berlebihan,” tutupnya. ***