PEKANBARU – Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, panitia kurban diingatkan untuk memahami karakter hewan sebelum proses penyembelihan dilakukan guna menghindari risiko kecelakaan maupun gangguan saat pelaksanaan kurban.

Pembina Dakwah Sembelih Halal (DSH) Kota Pekanbaru, Rois, mengatakan koordinasi antara penyedia hewan kurban dan panitia masjid menjadi faktor penting agar proses penyembelihan berjalan aman, tertib, dan sesuai syariat.

Menurut dia, setiap jenis sapi memiliki karakter berbeda sehingga membutuhkan penanganan yang berbeda pula.

“Penyedia hewan dan panitia kurban harus satu frekuensi. Mereka harus paham karakter sapi yang akan dibawa ke masjid. Kalau tipikal sapi umbaran yang biasa dilepas di padang sawit atau padang gembalaan, biasanya lebih agresif dan liar,” kata Rois, Senin (25/5/2026).

Sebaliknya, sapi yang terbiasa dipelihara di kandang cenderung lebih jinak dan mudah dikendalikan saat proses penyembelihan berlangsung.

Karena itu, menurut Rois, identifikasi karakter hewan menjadi langkah penting sebelum hewan kurban dibawa ke lokasi penyembelihan.

Ia mengatakan masih ditemukan kasus hewan lepas atau sulit dikendalikan karena panitia kurang memahami kondisi hewan yang ditangani.

“Ini yang sering terjadi di lapangan, ada sapi yang lepas atau ngamuk saat penyembelihan karena panitia tidak memahami karakter hewannya. Makanya harus dipastikan dulu jenis sapinya, baru perlakuannya saat penyembelihan,” ujarnya.

Selain menyoroti teknis penyembelihan, Rois juga mengungkapkan jumlah hewan kurban pada Idul Adha tahun ini diperkirakan mengalami sedikit penurunan dibanding tahun sebelumnya.

Informasi yang diterimanya dari sejumlah panitia masjid menunjukkan adanya penurunan jumlah sapi kurban di beberapa lokasi.

“Ada masjid yang biasanya menyembelih 17 ekor sapi, sekarang sekitar 15 ekor. Ada juga yang turun dari 12 ekor menjadi 10 ekor,” katanya.

Meski demikian, Rois menilai penurunan tersebut tidak terlalu signifikan, terutama di tengah kondisi ekonomi yang dinilai masih menantang.

“Memang ada penurunan, mungkin karena kondisi ekonomi kita saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tapi walaupun harga hewan cukup tinggi, penurunannya tidak terlalu signifikan,” ujarnya.

Menurut dia, kondisi itu menunjukkan minat masyarakat untuk berkurban masih relatif tinggi. Ia menduga meningkatnya pemahaman keagamaan masyarakat turut menjadi salah satu faktor pendorong.

Terkait kesehatan hewan kurban, Rois memastikan hingga saat ini belum ditemukan indikasi penyakit berbahaya pada sapi maupun kambing yang akan dipersiapkan untuk Idul Adha.

Ia mengatakan tim kesehatan hewan dari pemerintah provinsi maupun pemerintah kota masih terus melakukan pemeriksaan dan pendataan di lapangan.

“Sejauh ini belum ada temuan sapi atau kambing yang bermasalah. Tim dari dinas kesehatan hewan masih terus bekerja melakukan pendataan,” kata Rois.

Rois menambahkan, peternak saat ini lebih banyak menyediakan sapi jenis Peranakan Ongole (PO) atau sapi lokal yang dinilai lebih aman. Sementara sapi Bali disebut membutuhkan perhatian lebih karena lebih rentan terhadap penyakit tertentu, seperti virus jembrana dan parasit darah.

“Ada juga sapi Bali, tapi yang paling rawan memang jenis itu. Namun tahun ini mudah-mudahan tidak ada kasus jembrana dan tidak ada masalah,” tuturnya. ***