
PEKANBARU, GORIAU.COM - Pemilih golongan putih (golput) diprediksi akan terjadi besar-besaran pada Pemilu 2014 ini. Tinjauan ini berdasarkan semakin tingginya angka golput yang terjadi dari tahun ke tahun. Lantas apa yang harus diperkuat meminimalisir?
Dalam diskusi Politik tentang Peran Media Massa Mencegah Golpuut di Pemilu 2014 yang ditaja Harian Vokal, Senin (17/3/2014), mengupas bahwa minimnya partisipasi masyarakat pada Pemilu, tidak terlepas dari penguatan sosialisasi yang harus dilakukan oleh semua pihak, termasuk partai politik (parpol) itu sendiri.
Dimana sampai saat ini belum ada pendidikan dari parpol tentang pemahaman pemilu untuk masyarakat. Selain itu, banyaknya pemilihan yang berlangsung juga menjadi faktor terbesar membuatnya malasnya masyarakat menjadi pemilih.
Masyarakat seakan jenuh dengan pemilihan yang begitu banyak. Parpol hanya sibuk berkampanye tanpa memberi pemahaman secara dalam fungsi dan tujuan dilaksanakan pemilu.
Hadir dalam pertemuan tersebut, Ketua SPS Riau, H Syafriadi, Pengamat Politik dari Universitas Riau, Maxasai Indra, Anggota KPU Riau Ilham, jajaran redaksi Harian Vokal dan sejumlah Pimpinan Redaksi media massa.
Kemudian pembahasan yang paling menonjol adalah panggilan pemilu yang mengedepankan 'Dari, Oleh dan Untuk Rakyat'. Dimana 'Untuk Rakyat' tersebut lambat laun semakin menghilang.
"Ini salah satu yang juga menjadi dasar tingginya angka golput yang terjadi. Masyarakat dijanjikan, ketika duduk, seperti terjadi jarak yang sangat jauh dibanding ketika melakukan kampanye," kata Indra Maxasai, Pengamat Politik dari Universitas Riau.
Sementara itu, Anggota KPU Riau, Ilham, mengaku sosialisasi yang paling jelas dan nyata untuk meminimalkan pemilih golput pada Pemilu adalah peran media massa. Karena menurutnya, selama ini, media massa menjadi sarana yang paling cepat dan tepat untuk memberikan pemahaman sekaligus sosialisasi kepada masyarakat.
"Angka golput setiap tahun semakin tinggi. Partisipasi pemilih paling besar baru terjadi pada 1999, dimana terdata 92 persen masyarakat memilih. Sementara pada 2004, terjadi penurunan, angka pemilih hanya berada pada 82 persen," jelasnya.
Berlanjut pada Pemilu 2009, kembali mengalami penurunan menjadi 72 persen. Jika kondisi ini terus berlangsung, tidak menutup kemungkinan pada Pemilu 2014 ini, akan terjadi penurunan lebih tajam lagi pada 62 persen.
"Kita terus melakukan sosialisasi, baik di media massa maupun forum-forum tertentu agar mengangkat kembali partisipasi masyarakat pada Pemilu tahun ini," terang Ilham.***