
Saksi Bisu
LIMPA dan separuh hati itu menjadi saksi bisu bagi perjalanan panjang sang Elis. Dia yang berusaha menolak pilihan kematian tragisnya. Saksi itu hingga kini masih terkubur di halaman depan rumah sederhana pada kompleks perumahan yang berada di sudut Kota Pekanbaru.
Jalan bergelombang dan tatanan drainase yang berantakan sepanjang perjananan menuju rumah keluarga Elis, masih menjadi medan berbahaya yang harus diantisipasi bagi setiap pengendara.
Sore itu, 10 Januari 2014, Haidir masih dalam kesibukan yang sama sebagai seorang jurnalis. Meninggalkan sang isteri yang kini telah dianugerahi dua buah hati.
Sementara Elis, megalihkan profesinya dari pembuat kue pesanan menjadi ibu rumah tangga yang tekun untuk berbisnis busana muslimah dan berjualan obat-obatan herbal.
Para pelanggan sore itu masih silih berganti datang dan singgah ke rumah sederhana yang dipenuhi dengan busana muslimah.
Jelang kumandang adzan Magrib, Haidir akhirnya pulang untuk berkumpul dengan keluarga kecilnya. Ketika itu, suasananya tidak lagi sama seperti delapan tahun silam.
Keluarga ini berkumpul untuk saling berkasih tanpa aktivitas luar rumah dengan dua anak yang baru dilahirkan sang isteri lima dan tiga tahun silam.
Dua anak laki-laki, bernama Hafiz Alfarisi dan Fiki Nauli baru saja bersih-bersih tubuh usai bermain kekumuhan di sekitar lingkungan kompleks perumahan yang berada di Kecamatan Tampan, Pekanbaru, Riau.
Mereka tidak menyadari telah kehilangan seorang kakak yang harusnya telah duduk di bangku Sekolah Dasar. Tidak juga pernah mengetahui bahwa segumpal daging dengan bobot sekitar setengah kilogram yang merupakah limpa dan hati sang bunda terkubur di halaman rumah yang setiap hari menjadi pelintasan bermain keduanya.
Sang ayah masih terus berusaha untuk kebaikan dan kebahagiaan isteri serta dua putra kesayangannya.
"Namun trauma itu tidak pernah hilang," demikian Haidir mengakhiri percakapan tentang kisah kematian sang putri dan isteri yang kini menjalani kehidupan meski tanpa limpa dan hanya separuh hati. (bersambung)