PEKANBARU - Bencana kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti wilayah Riau kini berdampak langsung pada pergerakan perekonomian daerah. Buruknya kualitas udara memaksa sebagian besar masyarakat membatasi mobilitas di luar rumah, yang secara otomatis menekan sektor pariwisata, bisnis perhotelan, hingga usaha kuliner.

Ketua Badan Pimpinan Daerah Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Provinsi Riau, Nofrizal menyebutkan bahwa perubahan tren kegiatan warga sudah sangat terasa dalam beberapa hari terakhir. Menurunnya tingkat kunjungan masyarakat menjadi tantangan baru bagi para pelaku usaha lokal.

"Orang cenderung menahan diri untuk bepergian. Situasinya sangat berbeda jika dibandingkan saat kondisi udara sedang normal," terangnya kepada GoRiau.com, Senin (7/9/2026) di ruang Badan Kehormatan DPRD Pekanbaru.

Menurutnya, efek dari menurunnya mobilitas publik ini langsung menghantam sektor kuliner. Berkurangnya pengunjung di sejumlah rumah makan turut menekan perputaran uang yang menjadi tumpuan ekonomi harian.

Fenomena Singgah Menghindari Asap

Meski secara umum industri perhotelan terdampak, Nofrizal mengungkapkan adanya situasi berbeda pada sebagian akomodasi. Beberapa warga justru sengaja menyewa kamar hotel sebagai tempat berlindung dari paparan polusi udara di luar ruangan.

"Banyak yang tidak keluar kota, tetapi memilih datang dan tinggal di hotel. Mereka menghindari sebaran polusi karena fasilitas di dalam hotel dirasa lebih aman," jelasnya.

Kendati demikian, fenomena tersebut dinilai hanya bersifat sementara. Keputusan masyarakat menginap secara mendadak ini belum mampu dijadikan penopang utama keberlangsungan operasional perhotelan dalam jangka panjang.

Gangguan Transportasi Udara Turut Membayangi

Tantangan sektor usaha diprediksi akan semakin berat apabila terjadi kendala rute penerbangan nasional. Nofrizal mencontohkan potensi gangguan jadwal di Bandara Soekarno-Hatta akibat erupsi gunung berapi yang terjadi pada kurun waktu yang sama.

"Jika misalnya Bandara Soekarno-Hatta ditutup lebih lama, dampaknya akan merembet ke mana-mana," urainya.

Ia memaparkan bahwa kedua masalah tersebut, baik karhutla di daerah maupun gangguan bandara di pusat, saling berkaitan dalam menekan aktivitas ekonomi.

"Masalah kita di Riau adalah asap dari pembakaran lahan yang memukul dari daerah. Jika akses penerbangan di pusat juga terganggu, dampaknya akan semakin meluas," tambahnya.

Oleh sebab itu, Nofrizal mendorong agar praktik pembakaran lahan segera dihentikan secara permanen. Kualitas udara yang bersih menjadi prasyarat agar kunjungan wisatawan ke sekitar Pekanbaru bisa perlahan pulih.

Pusat Keramaian dan Kegiatan Publik Terdampak

Lesunya aktivitas warga turut terpantau di berbagai pusat perbelanjaan. Ia mengamati bahwa tingkat kunjungan ke mal pada Minggu (6/9/2026) tampak jauh lebih sepi dari kondisi normal di akhir pekan.

"Kunjungan ke mal akhir pekan ini agak lengang. Warga memang enggan keluar rumah," imbuhnya.

Dampak buruk kabut asap juga terlihat jelas dalam agenda keramaian publik. Saat pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) pada Senin pagi, sejumlah relawan harus turun tangan membagikan masker kepada peserta dan masyarakat guna menekan risiko paparan polusi.

"Kondisinya sudah membahayakan," tutupnya, seraya berharap penanganan karhutla dipercepat agar siklus sosial dan bisnis di Riau dapat kembali berjalan normal. ***