
PEKANBARU - Arus kecerdasan buatan (AI) yang kian masif memaksa perusahaan media untuk memutar otak dalam melindungi karya jurnalistik mereka dari aksi ekstraksi data oleh mesin pencari.
Kondisi tersebut dikupas tuntas oleh Product Manager Tempo Digital, Dimas Ibrahim dalam workshop bertajuk "Pemanfaatan Artificial Intelligence untuk Produksi Konten Multimedia" yang ditaja oleh Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Wilayah Riau dan disponsori oleh Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI), bertempat di Hotel Pangeran Pekanbaru, Kamis (27/8/2026).
Menurut Dimas, pada dasarnya model jurnalistik inti tidak mengalami perubahan drastis di era digital ini. AI sekadar hadir sebagai alat bantu yang mempercepat proses riset, produksi, hingga distribusi berita ke hadapan pembaca.
"Kecuali jika media tersebut memilih pendekatan social journalism, dimana konten untuk media sosial ditayangkan lebih dulu sebelum diperdalam menjadi artikel teks," paparnya di hadapan para jurnalis dan pimpinan media lokal.
Proteksi Konten dan Bot AI
Dalam sesi tanya jawab, seorang peserta menyoroti potensi mesin AI yang terus melakukan crawling atau penarikan terhadap konten-konten jurnalistik di internet.
Menjawab hal tersebut, Dimas membenarkan bahwa seluruh konten yang dapat diakses publik secara bebas pasti akan disedot oleh mesin AI. Oleh sebab itu, Tempo menerapkan sistem login dan paywall guna menghalau akses penuh mesin pintar tersebut ke dalam artikel.
"Kita menggunakan bot management untuk memblokir bot AI seperti dari ChatGPT maupun Meta AI, agar mereka tidak bisa mengambil, mengklasifikasi, atau menerjemahkan artikel Tempo sesuka hati," urainya.
Ia menyadari bahwa kebijakan bisnis ini berisiko menurunkan angka kunjungan pembaca karena adanya friksi saat mengakses halaman. Namun, perlindungan itu dinilai mutlak demi menjaga keberlangsungan ekosistem data internal media.
Lebih jauh, Dimas memperkenalkan transisi dari Search Engine Optimization (SEO) menuju Generative Engine Optimization (GEO). Jika dulu media mengandalkan file robots.txt, kini pengembang mulai memanfaatkan direktori LMS.txt guna memberikan arahan dan konteks spesifik kepada bot AI terkait topik sebuah media.
Terkait kekhawatiran mengenai ancaman propaganda otomatis dari platform, Dimas menegaskan bahwa keamanan jurnalisme bertumpu pada integritas redaksi itu sendiri.
"Media independen itu tidak bergantung pada kepentingan tertentu, melainkan mengutamakan kepentingan publik. Distribusi di platform mana pun tidak menjadi masalah selama konten itu berorientasi pada publik dan layak disebarkan," tegasnya.
Investigasi Aman Lewat RAG
Pemanfaatan teknologi pintar ini juga merambah hingga ke dapur investigasi yang menggunakan AI dalam menggarap laporan mendalam tanpa membocorkan rahasia redaksi.
Dimas mengungkapkan bahwa Tempo sangat berhati-hati dalam mengadopsi AI. Tidak ada instruksi struktural yang mewajibkan jurnalis memproses bahan artikel investigasi ke platform AI eksternal demi mencegah kebocoran data sensitif.
Sebagai solusinya, media nasional tersebut membangun platform AI internal yang berbasis pada sistem Retrieval-Augmented Generation (RAG). Sistem ini menarik data langsung dari arsip pemberitaan internal yang sudah terhimpun sejak lama.
"Keuntungannya, jawaban yang dihasilkan oleh AI internal sudah pasti terverifikasi dengan rujukan edisi atau artikel yang pernah kita terbitkan sendiri," terangnya.
Praktik teknis lainnya melibatkan penggunaan fitur transkripsi otomatis (auto-transcribe) untuk wawancara mendalam. Seluruh data mentah tersebut disimpan rapat di dalam ekosistem aset digital internal agar tidak diserap ke dalam model bahasa raksasa milik pihak ketiga. ***