
PEKANBARU - Kepolisian Daerah (Polda) Riau terus mendalami misteri kematian Angelika, bocah berumur 11 tahun yang ditemukan sudah menjadi kerangka di semak belukar KM 15, Jalan lintas timur Desa Baru kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Rabu (23/3/2016) lalu.
Kepala Sub-bidang Kedokteran Kepolisian Biddokes Polda Riau, Kompol Supriyanto, kepada GoRiau.com, Rabu (30/3/2016) siang menyatakan, secara keilmuan, pihaknya bisa saja mengungkap penyebab kematian Angelika dari kerangka yang ditemukan tersebut.
"Asalkan kekerasan yang dialami korban (sebelum meninggal dunia) menyentuh hingga ke bagian organ keras (tulang, red). Contoh bekas bacokan, bekas sayatan parang. Biasanya akan membekas bila kena sampai ke tulang. Dari situ kita analisa sebab kematiannya," jawab dia.
Namun dalam kasus ini, kondisi kerangka Angelika tidak terindikasi hal itu. Meski demikian, Supriyanto berasumsi kalau bocah kelas V SD ini memang sengaja dihabisi (dibunuh, red). "Tidak menutup kemungkinan. Ada beberapa faktor yang mengarah ke situ, sesuai hasil forensiknya memang ada beberapa keganjilan," sebutnya.
Keganjilan pertama, organ lunak pada tubuh Angelika cepat membusuk dalam waktu singkat. "Normalnya, orang yang mati hingga menjadi tengkorak butuh waktu dua minggu sampai tiga bulan pada kondisi alam terbuka. Ini ganjil, kecuali ada bekas luka yang terpapar sehingga mempercepat proses ini," katanya.
Jika proses pembusukan organ lunaknya cepat, bisa diartikan ada luka yang dialami korban sebelumnya. Luka inilah yang mengindikasikan adanya kekerasan. Hanya saja itu tidak bisa dibuktikan, karena ketika ditemukan, kondisi Angelika sudah menyisakan tulang belulang.
Kedua, pada organ lunak di telapak kaki korban terdapat luka posmortal (luka yang terjadi setelah meninggal dunia,red). Temuan ketiga, adanya bekas tanda seretan pada pakaian yang ditemukan bersama kerangka bocah Angelika ini.
"Biasanya tulang belulang akan terpisah-pisah atau lepas seiring waktu. Nah kalau dalam waktu singkat sudah terjadi, bisa disebabkan beberapa hal, misalnya akibat binatang atau imbas kekerasan. Tapi setelah kita analisa (Angelika,red), tidak ada keganjilan," jawab Supriyanto. ***