SELATPANJANG, GORIAU.COM - Dampak negatif kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang terjadi sejak Januari hingga Maret 2014 begitu besar bagi Kabupaten Kepulauan Meranti. Selain merugi hingga Rp 1 T, kemiskinan di kabupaten termuda itu juga meningkat hingga 5 persen dari jumlah sebelumnya yakni sebesar 35 persen.
Bupati Kepulauan Meranti, Drs Irwan MSi, menilai kebakaran hebat sepanjang sejarah di Kepulauan Meranti tersebut merupakan ulah oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab. Kemudian diperparah oleh kondisi musim kemarau panjang, lahan gambut dan angin yang bertiup kencang.
"Bencana Karhutla kali merupakan yang terhebat sepanjang masa dan sejarah di Kepulauan Meranti," ungkap Irwan, Selasa, (13/5/2014).
Ditambahkan Irwan lagi, dari karhutla yang terjadi kemarin lebih kurang 23 ribu hektar lahan yang terdiri dari perkebunan sagu, karet, kopi, sawit, kelapa, akasia serta semak belukar hangus terbakar.
"Nilai kerugian diperkirakan mencapai 1 Triliun lebih, meliputi kerugian terhadap investasi di sektor perkebunan maupun bagi petani itu sendiri," lanjutnya.
Ditambahkan Sekda Kepulauan Meranti, Iqaruddin, kemampuan Pemkab untuk membantu mengatasi kerugian ekonomi masyarakat ini masih terbatas. Oleh karena itu berbagai bantuan pihak lain, seperti Pemerintah Provinsi maupun Pusat sangat diharapkan.
"Kami mengharapkan ada perhatian lebih dari provinsi sehingga terjadinya sharing anggaran dalam menyelesaikan dampak Karhutla tersebut, sebab kemampuan yang dimiliki Pemkab saat ini sangat terbatas," ucap Iqaruddin.
Saat ini, berbagai upaya memulihkan kerugian ekonomi masyarakat pasca Karhutla terus dilakukan. Upaya antisipasi dampak yang lebih luas akibat Karhutla juga penting. Instabilitas keamanan sosial dan ekonomi di masyarakat dikhawatirkan dapat terjadi sehingga menyebabkan tindakan kriminal di tengah-tengah masyarakat," sebutnya.
(zal)