
PEKANBARU, GORIAU.COM - Musibah kebakaran yang terjadi beberapa minggu terakhir cukup merugikan bagi para pelaku usaha perkebunan dan juga perekonomian daerah. Untungnya, musibah kebakaran tersebut telah berangsur hilang dalam beberapa hari ini.
Namun, Menurut catatan Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau, Drs Zulher MS, dalam bulan Mei-September merupakan puncak musim kemarau tahun 2014, kemudian diprediksi juga pada kurun bulan Juni, bagian utara negara Filipina akan dilanda Badai El Nino yang tentu akan berimbas buruk pada kondisi cuaca di wilayah Sumatra. Imbasnya, di Provinsi Riau akan terjadi musim kemarau kering yang tentu berpotensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
''Jika kita tidak segera mengantisipasi hal ini, maka kebakaran yang terjadi sekarang ini akan kembali terulang. Apalagi pada waktu tersebut arah angin akan berubah menuju negara Malaysia dan Singapura. Tentu akan berdampak buruk pada hubungan antar negara nantinya”ungkap Zulher kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (20/3/2014).
Untuk mengantisipasi hal tersebut, Zulher selaku Kadisbun Riau akan melakukan Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Pemadaman Kebakaran Kebun dan Lahan (Damkarbunla) terhadap para pelaku usaha perkebunan yang ada di Provinsi Riau. Untuk langkah awal ini, katanya, Disbun Riau akan mendiklatkan staf perusahaan yang berhubungan dengan kebakaran. Menurutnya, program Diklat ini akan menjadi program jangka panjang Disbun Riau dalam mengantisipasi kebakaran kebun dan lahan.
''Kita menggandeng GAPKI Riau, untuk melakukan Diklat tersebut. Kita minta mereka mengirimkan tim Redam (Regu Pemadam)-nya yang akan kita latih agar mereka memahami dan menguasai tugas dan tanggung jawabnya,'' terang Zulher.
Kegiatan Diklat tersebut akan dibagi dalam beberapa angkatan nantinya. Untuk angkatan pertama ini akan dilatih sebanyak 60 orang yang dibagi ke dalam dua kelas diklat yaitu kelas pertama pada tanggal 1-6 April 2014 dan kelas kedua pada tanggal 14-19 April 2014. Mereka akan dilatih selama 6 hari yang dibagi kepada 3 hari teori dan 3 hari simulasi di lapangan.
''Kita menargetkan seluruh perusahaan perkebunan harus mengirim peserta untuk didiklatkan. Setelah mereka ikut diklat maka peserta diklat akan menjadi team leader di perusahaan nantinya,'' ujar Kadis yang suka bersepeda ini.
Sedangkan untuk permasalahan anggaran kegiatan Diklat Damkarbunla berasal dari swadana dari peserta diklat. ''Kita tidak memiliki anggaran untuk melakukan diklat ini. Untuk itu sesuai kesepakatan kita dengan GAPKI Riau, maka biaya diklat akan dibebankan kepada perusahaan yang mengirim peserta,'' tambah Zulher lagi.
Disinggung dengan pelaku usaha perkebunan non perusahaan, seperti petani dan kelompok tani, Zulher mengatakan bahwa dia akan berkonsultasi dulu dengan Gubernur Riau karena menurutnya Gubernur Riau memiliki program agar di setiap desa yang berpotensi terjadi gangguan kebakaran akan dibentuk tim Redam sebanyak lima (5) orang per desa.
''Kita akan meminta arahan dari Pak Gubernur untuk menentukan pola pelatihan dan penganggarannya,'' tambah Zulher lagi.
Sebagai pelaksana Diklat ini, Disbun Riau bekerjasama dengan Balai Diklat Kehutanan Pekanbaru. Menurutnya Balai Diklat Pekanbaru mampu sebagai pelaksana nantinya. (rls)