
PANGKALAN KERINCI, GORIAU.COM - Kunjungan Kerja (Kunker) Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan MM ke Kabupaten Pelalawan, Kamis pekan lalu (7/2/2013) dalam rangka peletakkan batu pertama pembangunan Pusat Konservasi Gajah atau Rumah Sakit Gajah di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) dinilai oleh aktivis lingkungan hidup telah diboncengi kepentingan perusahaan kertas yang juga ''perusak hutan'', RAPP untuk melakukan pencitraan kepada masyarakat maupun kepada Menteri sendiri.
Menurut para aktivis lingkungan hidup, penyerahkan bantuan berupa pompa ministriker kit 1 unit, selang stavlo hose 1,5 sebanyak 5 roll, pompa gendong 1 pc, sekop 2 pcs dan garu 2 pcs secara simbolis yang dilakukan oleh Direktur RAPP Kusnan Rahmin di hadapan Menhut jelas sekali bermuatan pencitraan perusahaan.
Aktivis lingkungan hidup, Bambang Azwandi SE, Jumat (15/2/2013) mengatakan bahwa kunjungan Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan ke TNTN telah diboncengi RAPP untuk melakukan pencitraan. “Ini jelas sekali adanya konspirasi yang dilakukan Menhut dengan pemilik modal dalam hal ini RAPP, sehingga apa yang ditampilkan di depan publik seolah-olah telah berbuat dalam penyelamatan hutan di Pelalawan, padahal merekalah yang paling banyak merusak fungsi hutan di Pelalawan,'' ungkapnya .
Dikatakan Bambang, bentuk bantuan yang diserahkan RAPP sangat tidak sepadan dengan apa yang telah mereka perbuat dalam merusak fungsi hutan, belum lagi dampaknya kepada kemiskinan masyarakat setempat karena banyak lahan masyarakat yang diserobot RAPP.
“Momentum kedatangan Menhut mereka manfaatkan untuk memberikan bantuan berupa alat pemadam api, bantuan itu sangat tidak sepadan dengan dampak yang mereka timbulkan karena kerusakan hutan yang merela lakukan. Sekarang malah berlagak bak pahlawan,'' kata Bambang menyayangkan momentum itu melibatkan RAPP.
Sikap Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan juga menjadi keprihatinan bagi para aktivis lingkungan hidup. Menurut Bambang, sangat disayangkan Menhut terlibat dalam pencitraan yang dilakukan RAPP, karena pompa air itu diserahkan oleh menhut kepada masyarakat.
“Sangat miris, pemberian bantuan itu memakai tangan Menhut, terlihat sekali kesan pencitraan yang ingin disampaikan RAPP,'' ujar Bambang menyesalkan.
Dijelaskan Ketua Partai Rakyat Demokratik (PRD) Riau ini yang sudah lama berkecimpung sebagai aktivis lingkungan hidup, seharusnya Menhut merumuskan bagaimana pelestarian kawasan ekosistem Gajah disana, bukan hanya berbicara masalah RS Gajah.
“TNTN selama ini telah menjadi bank gajah, gajah didatangkan dari mana mana, sehingga menimbulkan masalah baru tentang penyelamatan ekosistem, kalau berbicara tentang kawasan habitat gajah tentunya harus harus kita urus adalah hutannya, di dekat TNTN itu kan kebun Akasia RAPP yang banyak disana, yang telah merusak habitat gajah,'' terangnya
Ditegaskan Bambang, bukan bentuk bantuan yang sangat kecil oleh RAPP kepada masyarakat saja yang menjadi masalah, melainkan momentum pemberian bantuan itu yang snagat disayangkan. Yang terkesan RAPP mengambil muka ke Menhut. (ilm)