
PEKANBARU – Tradisi Pacu Jalur dari Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, kembali menyita perhatian publik. Bukan semata karena adu cepat perahu panjang yang melegenda itu, tapi lantaran munculnya sosok “Anak Coki”, tukang tari di ujung jalur yang berjoget penuh percaya diri selama perlombaan. Gerakan khasnya bahkan menginspirasi tren global dengan diberi nama aura farming, yang kini telah diadopsi oleh sejumlah figur nasional hingga internasional.
Pacu Jalur mendadak viral. Ratusan ribu orang menyaksikan video tersebut. Banyak yang tertarik, penasaran, bahkan berencana datang langsung ke Tepian Narosa di Sungai Kuantan. Namun, pertanyaannya kemudian muncul: setelah mereka datang dan menyaksikan perlombaan, lalu apa?
Inilah pertanyaan reflektif yang diajukan Firdaus Yusrizal, dosen Program Studi Usaha Perjalanan Wisata FISIP Universitas Riau. Menurutnya, selama ini Indonesia, termasuk Riau, terlalu terpaku pada keunikan dan daya tarik awal tanpa benar-benar memikirkan rangkaian pengalaman yang seharusnya menyertai kunjungan wisatawan.
“Daya tarik wisata itu sebenarnya berada dalam kepala orang, bukan pada bendanya saja. Kita sering menganggap cukup dengan membuat sesuatu jadi viral. Tapi saat wisatawan datang, kita tidak tahu harus memperlakukan mereka bagaimana,” ujar Firdaus saat ditemui di Laboratorium Pariwisata FISIP Unri, Rabu (09/07/2025).
Firdaus menjelaskan, dalam konsep pariwisata, yang disebut sumber daya wisata adalah sesuatu yang punya kekuatan memikat. Ia bisa berupa atraksi budaya, keunikan alam, atau kisah masyarakat. Namun, keberhasilan suatu destinasi tak hanya diukur dari seberapa banyak orang datang, tetapi seberapa lama mereka tinggal dan apa yang mereka rasakan.
“Kalau orang cuma datang, lihat, terus pulang. Itu bukan wisata yang berkelanjutan. Kita tidak menciptakan experience. Sementara wisatawan saat ini datang bukan hanya untuk melihat, tapi untuk mengalami,” kata Firdaus.
Ia mencontohkan Pacu Jalur yang saat ini memiliki nilai budaya yang luar biasa, bahkan memantik kebanggaan lokal. Namun, setelah pengunjung melihat sosok Anak Coki menari atau perahu berpacu, tidak ada aktivitas lanjutan yang ditawarkan. Tak ada tempat mereka bisa belajar menari seperti Anak Coki, tak ada wahana interaktif, workshop, atau pertunjukan lanjutan.
Akibatnya, setelah rasa penasaran terpenuhi, yang tersisa adalah kebingungan. Dalam skenario terburuk: kebosanan.
Firdaus menyamakan keadaan ini dengan destinasi lain seperti Ombak Bono di Sungai Kampar, yang dulu sempat fenomenal. Gelombang sungai setinggi 4-6 meter yang bisa diselancari sempat jadi perhatian dunia. Namun, karena hanya terjadi satu atau dua kali sehari, wisatawan yang datang lalu menunggu ombak berikutnya merasa kosong. Tanpa aktivitas penunjang, pengalaman jadi terputus.
“Di laut, kalau orang surfing jatuh, bisa coba lagi. Di Bono, kalau jatuh, ya nunggu besok. Sambil menunggu, orang mau ngapain? Nah, di situlah kita lemah,” tambah Firdaus.
Hal serupa, menurutnya, juga terjadi di Istana Siak dan saat perayaan Bakar Tongkang Rohil. Ritualnya megah, momentumnya kuat, tetapi pengelolaan pengalaman lanjutan lemah. Setelah berfoto dan melihat prosesi, tidak ada yang bisa dilakukan pengunjung.
Firdaus menyebut bahwa penyebab utamanya adalah minimnya perencanaan pariwisata berbasis pengalaman. Seharusnya, di sekitar atraksi utama, dibangun sistem aktivitas lanjutan. Misalnya di Pacu Jalur, bisa dibuat panggung pertunjukan musik tradisional, lomba tari anak-anak seperti Anak Coki, bahkan workshop mendayung atau mengenal sejarah jalur.
Selain itu, dokumentasi dan promosi pun perlu dimutakhirkan. Video dokumenter Pacu Jalur yang ada masih berasal dari 2012–2013. Padahal saat ini, media sosial dan konten kreatif sangat menentukan persepsi calon wisatawan.
Sebagai akademisi, Firdaus mengaku para dosen di Prodi Usaha Perjalanan Wisata FISIP Unri sudah banyak membuat laporan, kajian, bahkan desain pengembangan destinasi. Tapi sayangnya, rekomendasi itu sering tak dibaca, apalagi dijalankan.
“Kalau ditumpuk, laporan itu bisa sampai ke bulan,” kelakarnya.
Menurut Firdaus, momentum viral Anak Coki adalah peluang langka. Ini bisa menjadi titik balik untuk memikirkan ulang pengembangan pariwisata di Riau tidak hanya berorientasi pada event, tapi pada ekosistem pengalaman yang menyeluruh.
Dia menyarankan agar pemerintah daerah, pelaku wisata, komunitas lokal, dan akademisi duduk bersama. Mendesain ulang narasi Pacu Jalur bukan hanya sebagai perlombaan, tapi sebagai pintu gerbang menuju pengalaman budaya yang tak terlupakan.
“Kalau tidak, kita hanya akan terus mengulang pola yang sama: viral sebentar, ramai sebentar, lalu ditinggal pelan-pelan,” ujarnya.
Tradisi Pacu Jalur telah membuktikan dirinya sebagai pemikat. Kini tantangannya adalah menjadikannya pengikat. Karena dalam dunia pariwisata modern, yang paling diingat orang bukan hanya apa yang mereka lihat, tapi apa yang mereka rasakan, alami, dan bawa pulang sebagai cerita. ***