
DURI - Staf ahli Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Abdurrahman Ayyub mengingatkan, anggota Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) yang kini menyebut diri Islamic State (IS), kini sudah mencapai tidak kurang dari 20.000 orang. Anggota mereka rata-rata merupakan generasi milenium kelahiran antara tahun 1980-an hingga 2000 atau yang diistilahkan dengan generasi Y.
ISIS merekrut yang berusia muda, dan penuh ambisi. Anak-anak muda ini dicuci otak mereka dengan pemikiran-pemikiran radikal yang mereka inginkan. Metodologi tidak akan bisa diterima oleh orang-orang yang berpikiran matang.
"Mereka itu sosok manusia yang arogan, amat sombong dan selalu merendahkan orang lain, serta menolak kebenaran yang tidak sesuai dengan hawa nafsu mereka," tandas Abdurrahman Ayyub, ketika tampil di depan ribuan muda-mudi peserta Tabligh Akbar di Masjid Arafah, Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Riau, Kamis (17/3/2016) yang diselenggarakan oleh Polres Bengkalis dan Pemerintah Kabupaten Bengkalis.
Menurut dia, saat ini gerakan ISIS telah mengembangkan baiat secara online. "Harus kita akui, bahwa cara ini menjadi kekuatan yang luar biasa bagi rekrutmen anak-anak muda yang gandrung dengan media sosial untuk menjadi pengikutnya," ujar Ayyub yang terus mengingatkan pelajar-pelajar di Mandau dan Pinggir, wilayah Kabupaten Bengkalis ini agar tidak terlibat dalam faham ISIS ini.
Ia menambahkan, dalam internal ISIS sendiri juga terjadi perebutan jabatan untuk menguasai wilayah tertentu. Jika kepemimpinannya diakui oleh pimpinan ISIS, maka dana yang dibutuhkan akan mengalir.
"Dana itu akan cair manakala untuk kepentingan aksi terorisme seperti pengeboman atau peledakan. Ini juga dilakukan oleh Osama Bin Laden. Mereka yang kala itu setia dengan gerakan Osama Bin Laden akan diberi bantuan, meski mereka tetap menggajukan proposal," tandas Ayyub yang menyebut pengalamannya ketika masih berinteraksi dengan Hambali sejak 1986.
Hambali dianggap sebagai otak di balik bom Bali 1 dan bom Bali 2 serta beberapa pengeboman lainnya. Ayyub menolak ajakan Hambali yang sesat kendati dia (Hambali) menjadi orang yang paling mudah mendapatkan kucuran dana dari Al Qaeda karena proyek terornya berupa peledakan bom.
"Kalau untuk proyek bom peledakan pasti dapat dana. Tapi kalau untuk membangun masjid atau sekolah tidak akan pernah diberi," katanya lagi menceritakan pengalamannya selama bergabung dikelompok yang menyesatkan itu.
"Khusus generasi muda yang ada disini, perlu mewaspadai diri dari pengaruh paham ISIS yang jelas-jelas sama dengan terorisme yang menghalalkan bom bunuh diri dan bebas dilakukan di mana saja," tandas Ayyub seperti yang dikutip GoRiau.com dalam pemaparannya.***