
PROVINSI Riau memiliki potensi pariwisata yang baik, akan tetapi tidak dapat dimanfaatkan akibat kurangnya perencanaan dan dukungan infrastruktur yang memadai. Beberapa potensi pariwisata yang seharusnya sejak lama dapat dijadikan sumber pendapatan daerah, seperti sia-sia karena kurang diolah secara maksimal oleh pemerintah Provinsi Riau. Objek wisata Riau, tidak dapat tumbuh begitu saja karena harus didukung pihak swasta dalam membangun infrastruktur. Sebagai contoh objek wiasata pacu jalur di Kabupaten Kuansing, seperti kurang gairah dalam menarik wisatawan lokal maupun manca negara.
Pacu jalur hanya sekedar dinikmati penduduk lokal dan masyarakat Riau yang yang berada di luar Provinsi Riau. Karena itu meskipun atraksi pacu jalur bisa dikemas lebih baik namun tidak berkembang akibat kurangnya dukungan infrastruktur, promosi dan keikutsertaan kalangan swasta. Meski pacu jalur sudah berusia sekitar 20 tahun dan pernah dikunjungi pejabat tinggi dari pusat, akan tetapi masih belum mampu menjadi sumber devisa pemerintah. Sampai saat ini pacu jalur tetap seperti jalan di tempat, akibat tidak dapat menarik wisatawan secara spektakuler.
Di Kabupaten Kuansing nyaris tidak memiliki penginapan yang memadai. Baik dilihat dari jumlah penginapan maupun kualitasnya tidak seimbang dengan gagasan mengembangkan Riau sebagai daerah kunjungan wisata. Bahkan di kota kabupaten itu hanya ada sekitar lima atau enam hotel setaraf hotel melati. Karena itu parawisatawan segan datang ke Kuansing. Mereka mengeluh tidak adanya akomodasi, tempat belanja dan kuliner yang bisa menarik para pendatang. Padahal pacu jalur adalah budaya tradisional masyarakat yang berusia lama. Bahkan pacu jalur ada kemiripan dengan tradisi pariwisata yang ada di Thailand. Di negara gajah putih itu upacara yang mirip pacu jalur, merupakan penghasil devisa. Para turis asing yang datang tidak mengalami kesulitan mencari tempat penginapan, berbelanja barang-barang khas dan menikmati kuliner di sana.
Yang juga mendapat prioritas dalam pengembangan pariwisata di Thailand, dukungan infrastruktur, partisipasi swasta dan promosi wisata berjalan seiring. Begitulah kelemahan yang ada dalam mengembangkan objek wisata yang usianya telah puluhan tahun, namun tidak memiliki daya jual yang menarik perhatian. Selain itu kondisi jalan di Kuansing kurang secara umum memadai, akan tetapi dilihat dari kebutuhan belum mencukupi. Apalagi jika wisatawan dari mancanegara dan dalam negeri berdatangan ingin menyaksikan atraksi khas daerah.
Problem serupa dalam pengembangan pariwisata juga terjadi di Kabupaten Rokan Hilir dengan atraksi Bakar Tongkang. Program tersebut yang melibatkan komunitas Tionghua yang berasal dari Rokan Hilir dan sejumlah masyarakat Tionghua yang datang dari luar negeri. Atraksi Bakar Tongkang mengandung nilai sejarah, yang menceritakan kisah masyarakat Tionghua di perantauan yang kembali kekampung halamannya setelah sanak saudaranya lama di perantauan. Karena itu kehadiran komuninas dalam jumlah besar memberi makna tersendiri. Namun sayang atraksi yang harusnya spektakuler, tenggelam dalam suasana rutin. Tidak ada perubahan atau hal-hal baru yang ditampilkan secara apik dan atraktif.
Sama dengan kabupaten lain atraksi Bakar Tongkang dihadiri para pejabat pusat dan daerah. Namun usai acara tersebut Kota Bagan siapi-siapi yang menjadi sentral kegiatan Bakar Tongkang, sepi kembali karena para pendatang pulang kedaerahnya masing-masing. Sedangkan yang datang dari mancanegara juga mengikuti hal yang sama. Ada beberapa orang pengunjung yang bertemu dengan sanak saudara dan orang-orang satu kampung. Begitulah objek wisata Bakar Tongkang yang tidak bertahan lama, karena persoalan pariwisata kembali kepada hal-hal yang usang seperti infrastruktur, pusat perbelanjaan yang atraktif dan penginapan yang langka. Dengan demikian sama seperti ditempat lain, objek wisata yang sebenarnya bisa menarik, seperti membuang garam ke laut. Artinya potensi yang dimiliki menjadi sia-sia belaka. Uniknya para pejabat beramai-ramai meneriakkan mau mengembangkan objek wisata Riau guna meningkat pendapatan hasil daerah.
Satu lagi objek wisata yang terbengkalai yaitu Pulau Rupat yang memiliki pantai indah yang letaknya berbatasan dengan Melaka. Pulau Rupat pun nasibnya serupa dengan objek wisata yang ada, tidak terawat dengan baik. Bahkan transportasi juga tidak mudah. Dari gambaran yang dikemukakan persoalan pengembangan pariwisata di Riau lebih banyak terletak dari perlunya "teknokrat pariwisata" harus lebih banyak di miliki Riau. Sehingga bisa memunculkan ide-ide baru yang menawan dan melibatkan berbagai elemen terkait. Sudah barang tentu, hal-hal itu juga ditopang promosi menarik. Yang memiliki infrastruktur memadai bagi pengembangan pariwisata, mungkin cuma Pekanbaru, Siak dan Dumai.
Memperhatikan berbagai objek wisata di Riau yang sebenarnya bisa punya prospek yang cerah, namun karena tidak digarap tangan-tangan yang profesional jadilah objek wisata yang ada terbengkalai. Bahkan seperti membuang garam ke laut. Itulah ironi yang terjadi bertahun-tahun tanpa ada penyelesaian yang baik. Padahal letak Provinsi Riau tidak jauh dari Malaysia dan Singapura sebagai pusat wisata internasional.***
H Mulyadi adalah wartawan senior tinggal di Pekanbaru.