PEKANBARU – Penetapan Hari Puisi Indonesia (HPI) oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia pada Sabtu malam (26/7/2025) merupakan buah dari deklarasi yang berlangsung 13 tahun lalu di Pekanbaru, Riau. Momen ini diungkapkan dalam acara Prosesi Penetapan HPI yang berlangsung di Taman Ismail Marzuki, Jakarta.
Selama lebih dari satu dekade, Yayasan Hari Puisi Indonesia (YHPI) telah aktif merayakan HPI, mulai dari penilaian buku puisi hingga penghargaan kepada penyair terkenal. Peringatan HPI ini juga sempat diadakan secara mandiri di ratusan titik di seluruh Indonesia.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan apresiasi terhadap kerja konsisten Yayasan Hari Puisi Indonesia yang telah mempromosikan Hari Puisi setiap tanggal 26 Juli. Tanggal tersebut dipilih karena merupakan hari kelahiran Khairil Anwar, salah satu penyair besar Indonesia yang karya-karyanya sangat berpengaruh dalam sejarah sastra.
Dalam sambutannya, Fadli Zon mengungkapkan bahwa puisi memiliki peran yang sangat penting dalam pengembangan peradaban bangsa, serta dalam memperkuat patriotisme dan nasionalisme. Puisi, menurut Fadli, tidak hanya memperkaya narasi kebudayaan Indonesia, tetapi juga merekam sejarah dan melestarikan kearifan lokal.
"Puisi merupakan bagian penting dari sastra Indonesia, yang tidak hanya mencatat sejarah tetapi juga membentuk karakter bangsa dengan sikap kritis, empatik, dan kreatif," ujar Menteri Fadli Zon.
Penetapan HPI ini juga diakui sebagai langkah strategis dalam memberikan pengakuan negara terhadap puisi sebagai bagian dari identitas budaya bangsa, yang tercantum dalam Pasal 5 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Keputusan ini merupakan hasil dari sebuah inisiatif yang sudah lama digagas sejak 2012. Salah satu pencetusnya adalah Rida K. Liansi bersama sejumlah sastrawan dan pegiat sastra lainnya, termasuk Agus Sarjono dan Ahmadun Yosi Herfanda. Proses panjang tersebut akhirnya membuahkan hasil pada 2025, dengan penetapan resmi dari pemerintah.
Menteri Kebudayaan juga menegaskan bahwa pihaknya akan lebih aktif bekerja sama dengan komunitas sastra di masa depan. "Kami akan meluncurkan Anugerah Sastra Indonesia dan memperluas program penerjemahan karya sastra ke berbagai bahasa asing," tambah Fadli Zon.
Acara ini juga dihadiri oleh sejumlah penyair terkemuka seperti Sutardji Calzoum Bachri, Gus Nasruddin, Nissa Rengganis, dan Linda Djalil. Penetapan HPI ini diharapkan dapat mendorong kemajuan sastra Indonesia dan meningkatkan literasi budaya di masyarakat. ***


