JAKARTA - Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Eni Maulani Saragih (EMS) diduga menerima suap Rp4,8 miliar untuk memuluskan proyek PLTU Riau-1. Dugaan tersebut kini tengah didalami penyidik KPK.

Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah mengatakan, dugaan tersebut sedang didalami KPK. ''Ini perlu kita dalami lebih jauh sebenarnya bagaimana proses awal sampai dengan kemarin ketika tanda tangan dilakukan. Sejauh mana suap yang kami duga diterima oleh EMS sekitar Rp4,8 miliar tersebut itu memang secara signifikan bisa memuluskan proses yang terjadi,'' Juru bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Febri Diansyah di Gedung KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (16/7/2018), seperti dikutip dari liputan6.com.

Dikatakan Febri, penggeledahan Kantor PLN merupakan upaya untuk menelusuri proses awal dugaan suap proyek pembangunan PLTU Riau-1 yang melibatkan dua tersangka, yakni EMS dengan Bos PT Blackgold Natural Recourses Limited, Johanes B Kotjo (JBK) tersebut.

EMS kena operasi tangkap tangan (OTT) oleh KPK di rumah dinas Menteri Sosial Idrus Marham beberapa hari lalu. Selain menangkap EMS, KPK juga mengamankan uang tunai senilai Rp500 juta yang diduga merupakan bagian dari commitment fee 2,5 persen dari keseluruhan nilai proyek.

Febri Diansyah menyampaikan, KPK mencari dokumen terkait proyek pembangunan PLTU Riau-1 tersebut untuk menelusuri hubungan antara PLN dengan perusahaan terkait lainnya, temasuk yang sahamnya dimiliki oleh tersangka.

Menurut Febri, konsen KPK saat ini adalah mengumpulkan bukti-bukti dugaan suap tersebut. Tentunya, ujar Febri, kantor PLN digeledah lantaran terlibat kerja sama dengan proyek PLTU Riau-1.

''Kami perlu mencari bukti-bukti yang ada di sana. Kalau ke rumah atau apartemen tersangka dan kantor tersangka itu tentu perlu juga dilakukan, karena ada dokumen lain yang bisa didapatkan di sana,'' jelas dia.

Sementara itu, KPK sebelumnya sudah melakukan pengeledahan di lima lokasi berbeda yaitu rumah Dirut PLN Sofyan Basir, rumah tersangka EMS, rumah tersangka JBK, kantor tersangka JBK dan apartemen JBK.

''Ada cukup banyak yang didapatkan KPK kemarin. Kami akan analisis dan sebagai bahan untuk klarifikasi lebih lanjut pada saksi yang diperiksa,'' Febri menandaskan.***