BAGANSIAPIAPI – Genangan air yang tak kunjung surut berpadu dengan aroma tak sedap dari tumpukan limbah rumah tangga kini menjadi pemandangan sehari-hari di Kota Bagansiapiapi, Kabupaten Rokan Hilir. Tingginya intensitas curah hujan membuat banjir mengepung hampir seluruh kelurahan, memaksa warga hidup berdampingan dengan risiko kesehatan lingkungan.

Hingga Jumat (30/10/2026), kawasan bagian timur kota yang dikenal dengan sebutan kota terasi tersebut menjadi wilayah yang cukup terdampak. Debit air terus menunjukkan peningkatan. Situasi diperparah dengan terhentinya aktivitas pengangkutan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sejak beberapa hari terakhir, menyisakan tumpukan material sisa yang berserakan di depan pekarangan warga.

Sembari menunjuk kantong plastik berisi tumpukan sampah yang terpaksa digantung di pagar rumahnya, Syafli (43), seorang warga setempat menceritakan kondisi yang dialami lingkungannya. Ia menyoroti sistem pembuangan air yang tidak berfungsi maksimal.

"Banjir semakin meninggi belum terlihat surut, berbau. Ini akibat saluran air tumpat, sampah berserakan menyumbat parit dan selokan serta drainase," keluhnya.

Kondisi lingkungan yang terendam genangan kotor ini memicu kekhawatiran warga terhadap munculnya berbagai masalah baru. Selain ancaman kedatangan hewan berbisa atau liar dari habitat yang terendam, ancaman penyakit kulit seperti eksim, kutu air, dan gatal-gatal terus mengintai kesehatan masyarakat setempat.

Bagi warga, penanganan satwa liar masih bisa diarahkan kepada petugas terkait, namun ancaman wabah penyakit membutuhkan solusi struktural yang lebih cepat dari sekadar pengobatan.

"Kalau soal ular atau binatang buas muncul, masyarakat minta bantuan ke petugas Damkar dan Penyelamatan, tetapi kalau kena penyakit eksim, kutu air dan gatal-gatal kulit tentu berobat ke rumah sakit. Untuk itu tolong segera atasi persoalan ini," harap warga lainnya.

Situasi lingkungan di Bagansiapiapi ini masih dibayangi oleh faktor cuaca yang belum menentu. Saat ini, kondisi langit di Rokan Hilir pada umumnya masih terus mendung. Tingginya curah hujan ini sejalan dengan siklus musim penghujan yang diperkirakan masih akan melanda kawasan tersebut hingga akhir Desember 2026 mendatang. ***