
PEKANBARU - Program perbaikan jalan atau overlay yang digalakkan Pemerintah Kota Pekanbaru pada 2025 menuai sorotan sekaligus keluhan dari warga di sejumlah lokasi. Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah Jalan Nelayan di Kecamatan Rumbai, yang termasuk dalam 29 proyek overlay tahap pertama tahun ini. Di balik niat baik perbaikan infrastruktur, warga justru menghadapi permasalahan baru, akses keluar-masuk rumah yang terhambat, meningkatnya risiko kecelakaan, dan kekhawatiran akan sistem drainase yang dianggap tidak memadai.
M. Habibullah, warga yang tinggal di Jalan Nelayan, menggambarkan kesulitan yang dialaminya sehari-hari sejak proyek pengerjaan jalan dimulai beberapa pekan lalu. Menurutnya, ketinggian hasil overlay yang tidak diselaraskan dengan permukaan tanah di depan rumah warga membuat kendaraan pribadi, khususnya mobil, nyaris mustahil untuk masuk atau keluar dari gang-gang kecil.
“Mobil keluarga sama sekali tidak bisa keluar dari depan rumah ini. Satu-satunya cara adalah memutar jauh ke belakang, melalui arah Masjid Raya Riau, baru bisa kembali ke jalan utama. Sangat tidak praktis dan membuang waktu,” ujar Habibullah, sambil menunjukkan kemiringan curam di ujung gang dekat rumahnya.
Ia menduga, metode pekerjaan yang bertujuan meratakan jalan secara keseluruhan (rata jalan) kurang memperhatikan kontur alamiah kawasan tersebut. “Mungkin mereka mengincar rata jalan semua, tapi tanah di Jalan Nelayan ini kan berbeda, sebagian besar gambut. Ada bagian yang tinggi, ada yang rendah. Seharusnya tidak bisa disamaratakan secara paksa seperti ini,” tambahnya.
Proses peninggian jalan disebutkan dilakukan secara bertahap dan cepat. Habibullah mencatat, sudah tiga kali timbunan material dilakukan dalam waktu singkat.
“Timbunan pertama masih rendah, yang kedua mulai naik, yang ketiga, saya sendiri terkejut tingginya jadi seperti sekarang. Tiba-tiba saja,” kisahnya.
Dampak langsung dari kondisi ini adalah terganggunya mobilitas warga, terutama kelompok rentan. “Banyak yang terjatuh. Baru-baru ini ada ibu-ibu. Kalau untuk sepeda motor boncengan, harus didorong atau dituruni dulu penumpangnya. Sangat rawan tergelincir,” ucapnya.
Keluhan serupa disampaikan oleh warga lain, Abdul. Ia bahkan menyaksikan insiden dimana sebuah mobil Panther terperosok dan terjebak saat pengemudinya berusaha masuk dari badan Jalan Nelayan yang tinggi ke gang yang lebih rendah. “Bukan cuma itu, saya lihat banyak warga, terutama para ibu, yang kesulitan bahkan sampai terjatuh karena ketinggian ini jadi halangan yang tidak terduga,” tutur Abdul.
Masalah lain yang mengemuka adalah terganggunya aktivitas ekonomi skala kecil di sepanjang jalan. Kedai-kedai milik warga sepi pengunjung karena masalah parkir. “Orang takut parkir. Ketinggian jalan overlay dibanding teras rumah sangat ekstrem. Kalau parkir di pinggir jalan, khawatir kena senggol dan langsung jatuh. Bisa rusak total kendaraannya. Akhirnya banyak yang parkir di badan jalan, itu malah bikin macet dan bahaya,” papar Habibullah.
Persoalan teknis lain yang disorot adalah sistem drainase. Warga menyatakan hanya ada satu saluran drainase di lokasi dan kondisinya sering tersumbat, sementara di sisi jalan yang berbatasan langsung dengan Sungai Siak, saluran pembuangan air sama sekali tidak ada. “Kami khawatir. Kalau tidak ada drainase yang baik, ke mana air akan mengalir saat hujan? Dulu saat jalan masih rendah, air bisa merembes ke arah sungai. Sekarang jalan ditinggikan seperti ini, justru bisa banjir lokal di permukiman kami,” ungkap Habibullah.
Di tengah segala keluhan tersebut, warga sebenarnya menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah terhadap infrastruktur dasar mereka. “Kami senang pemerintah hadir untuk perbaikan jalan. Puluhan tahun saya di sini, baru sekitar dua kali jalan ini diperbaiki. Saya bersyukur, tapi harapannya perbaikan tidak menimbulkan masalah baru bagi masyarakat,” kata Habibullah, menekankan bahwa aspirasi mereka adalah perbaikan yang berorientasi pada kebutuhan dan keselamatan warga.
Mereka berharap ada tindak lanjut dari dinas terkait, dalam hal ini Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Pekanbaru. Solusi yang diusulkan antara lain menurunkan ketinggian jalan di titik-titik akses permukiman, memperbaiki kemiringan (gradien) pada mulut gang, atau menimbun area depan rumah warga agar sejajar. Selain itu, perbaikan dan penambahan drainase yang memadai juga menjadi hal yang mendesak.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Kota Pekanbaru atau dinas teknis terkait mengenai keluhan-keluhan spesifik dari warga Jalan Nelayan Rumbai ini. ***