KAMPAR - Wakil Ketua DPRD Kampar Ir H Sahidin, melepaskan semua kerisauan hatinya yang mewakili harapan masyarakat dalam kampanye dialogis Calon Gubernur Riau, Drs H Syamsuar Msi, di Kediaman Agus Risna, Jalan Pembangunan, RT 05, RW 03, Desa Kota Bangun, Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar.

Sahidin meminta maaf kepada Syamsuar lantaran terlambat, penyebabnya jambatan di Desa Kota Garo, Kacematan Tapung Hilir atau di jalan lintas ke Kota Gato ke Desa Plamboyan, putus. Akibatnya, jarak tempuh seharusnya menelan waktu satu jam, kini menjadi tiga jam baru sampai di Desa Kota Bangun.

“Di Riau ini, kami seperti anak tiri, jalan dan jambatan tak pernah diperhatikan. Bila hujan jalan becek minta ampun, dan bila panas bukan main debunya,” ungkap wakil ketua DPRD Kampar itu.

Karenanya, masyarakat Tapung mencari “bapak kandung” yang peduli dengan keluhan masyarakatnya. “Bapak kandung itu Pak Syamsuar, dan kami yakin Pak Syamsuar mampu menyelesaikan masalah masyarakat Tapung ini. Kami inginkan jalan di Tapung sama sepeeti Siak,” ucap Sahidin.

Masyarakat tapung, sambung Sahidin, tidak ingin menjadi anak tiri. Masyarakat di sini ingin menjadi tuan rumah di kampung sendiri. “Salah satu untuk mewujudkan masyarakat Tampung menjadi tuan di rumah sendiri, lakukan pemekaran apalagi di sini sudah berdiri 50 desa dan ada 3 kecamatan,” ujar Sahidin.

“Jika kita ingin perubahan, inginkan daerah kita ini maju, maka menjadi tanggung kita masyarakat Tapung Hilir untuk memenangkan Pak Syamsuar. Apa setuju,” teriak Sahidin dan dijawab serentak ratusan masyarakat.

Tokoh masyarakat setempat, Wahyudin, membenarkan bahwa warga Tapung Hilir posisinya di Riau memang seperti anak tiri, rasanya tidak pernah dapat bantuan dari pemerintah provinsi, baik itu untuk jalan maupun bantuan pendidikan.

“Jadi, kami mohon bapak jika menjadi Gubernur Riau perhatikan warga di sini. Kami masyarakat Tapung Hilir siap untuk memenangkan Pak Syamsuar,” ucap Wahyudin.

Sementara itu, dalam orasi politiknya Syamsuar mengatakan, bahwa Tapung ada huhungannya dengan Kerajaan Siak, karenanya ketika Siak dimekarkan masyarakat Tapung ingin bergabung dengan Siak.

Yang menjadi persoalan negeri ini, ucap Syamsuar, ekonomi belum baik karena infrastruktur jalannya tidak baik. Jalan buruk berdambak besar pada pendapatan masyarakat.

“Pemimpin adalah pelayan publik, bukan dilayani publik. Jadi peminpin harus dekat dengan masyarakat, karenanya harus kenal dengan masyarakatnya. Insya Allah jika saya dipercaya menjadi Gubernur Riau, persoalan jalan dan jambatan menjadi prioritas kerja saja nantinya,” ucap Syamsuar.

Syamsuar juga membeberkan program kerjannya tentang pendidikan dan kesehatan gratis untuk masyarakat Riau. Selain itu, dia berupaya menggalakan pungutan zakat yang nantinya bisa membantu kaum dhuafa.

Terkait masalah pemekaran, Syamsuar menyebutkan, selagi hal itu untuk kesejahteraan masyarakat dan tidak bertentangan dengan peraturan yang ada, maka mari bersama-sama untuk memperjuangkannya. (Rls)