SIAK SRI INDRAPURA, GORIAU.COM - Siak harus bangga memiliki seorang Tengku Wahyu Gunawan. Disaat usianya yang kini terbilang remaja, Wahyu sudah bisa mengharumkan nama Kabupaten Siak di kancah nasional. Membesarkan nama Siak disaat kawan sebayanya masih asyik dengan kehidupan remaja. Ia harus menjadi contoh anak-anak Siak lainnya.

Perolehan medali emas di ajang Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Sepatu Roda Walikota Cup II beberapa hari yang lalu menjadi bukti, bagaimana potensi yang dimiliki para generasi muda Siak. Wahyu-lah satu-satunya atlit yang menyumbangkan medali emas untuk Kabupaten Siak.

Sebelum bergabung di Siak Inline Skate, ternyata Wahyu punya kebiasaan buruk. Dimana, sepulang sekolah ia menghabiskan hari-harinya dengan bermain internet di warnet. Bahkan, ia tak ingat waktu kapan belajar dan kapan makan.

"Kalau sudah bermain internet, saya lupa makan, lupa belajar bahkan lupa ibadah," tutur Wahyu kepada GoRiau.com, Rabu (22/1/2014) di Siak. Tak jarang, kebiasaan buruknya tersebut selalu mendapat teguran dari orang tuanya, Syaipul.

"Namun, tetap saja saya bermain game di warnet. Sebab, sangat susah bagi saya untuk meninggalkannya," urai Wahyu.

Namun, situasi tersebut dapat berubah ketika Wahyu mengenal dunia Sepatu Roda. Perkenalan itu dimulai saat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) 2012 di Riau. Kebetulan venue Sepatu Roda ada di Siak. Ia pun jatuh cinta dengan olahraga ini.

"Saya minta belikan Sepatu Roda kepada Ayah, ternyata permohonan itu dikabulkan," katanya dengan bahagia. Setelah pelaksanaan PON, Wahyu mulai berlatih bersama atlet lain di Siak Inline Skate.

Dari sini, ia pun mulai ikut kompetisi dalam berbagai ajang Kejurnas Sepatu Roda. Wahyu pernah ikut di Surabaya, namun ia gagal meraih medali emas. Saat itu hanya menempati posisi empat.

Medali emas pertama baru ia peroleh saat Kejurnas Sepatu Roda di Jakarta pertengahan 2013. Saat itu, Wahyu menempati urutan pertama. "Itu medali emas yang saya persembahkan untuk orang tua dan Siak," katanya.

"Namun sayang, pada Kejurnas selanjutnya di Banten, saya kembali gagal meraih medali emas. Waktu itu hanya meraih posisi empat. Sebab saya terjatuh di lintasan," cerita Wahyu akan pengalamannya.

Berkat kegigihannya berlatih, usaha untuk meraih medali emas terbayar lunas di Medan. "Ini berkat dorongan dan motivasi dari orang tua," katanya.

Bagi Wahyu, sepatu roda tidak hanya kecepatan berlari di arena pacu. Namun, ada sisi eksotis yang membuat para penonton terpukau, yakni, ketika para atlet meliuk-liuk layaknya seorang penari. Gerakan tersebut menjalar hingga ke ujung jari. "Disanalah letak keindahan Sepatu Roda," katanya.(san)