PEKANBARU - Beberapa kali melakukan sidak terhadap aparatur sipil negara (ASN) yang ada di Pekanbaru, Wakil Gubernur Riau Edy Natar Nasution dinilai bisa merugikan warga khususnya pemilik kedai. Bagaimana pun, sudah ''tradisi'' sejak Riau ini ada, tempat ''ngobrol'' yang paling disuka warga adalah kedai kopi.

''Harus dipilah dan dipisahkan antara kewajiban bekerja di kantor untuk ASN dengan saat tidak bekerja. Kadang ASN pergi ke kedai kopi karena memang sudah menyelesaikan pekerjaannya atau saat jam istirahat. Jangan dilarang mereka ke kedai kopi, kecuali tidak melakukan pekerjaan sesuai dengan yang diberikan,'' ujar anggota Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Riau, Zulfi Mursal saat dengar pendapat dengan anggota Forum Wartawan Legislatif (FWL) DPRD Riau, Kamis (16/1/2020).

Pada kesempatan itu, Zulfi mengatakan sangat mengapresiasi kerja para wartawan yang sudah ikut ambil bagian dalam mengawasi jalannya roda pemerintahan di Provinsi Riau.

''Saya apresiasi kerja wartawan dalam mengawal roda pemerintahan. Kalau ada yang bagus kita puji, salah dikritik, termasuk tindakan Wakil Gubernur Riau, Edy Natar Nasution yang selalu sidak ke kedai kopi, mencari ASN yang ''nongkrong'' disana,'' ujarnya.

Dikatakan, kalau sering-sering sidak seperti itu, bisa-bisa kedai kopi bangkrut, karena umumnya memang banyak kedai kopi yang tamunya adalah ASN. ''Kalau disidak seperti itu, lama-lama kedai kopi warga bisa sepi. Kasihan pemilik kedai kopi, bisa rugi mereka,'' tegas Ketua Fraksi PAN DPRD Riau ini.

''Seharusnya, Pemprov Riau membuat aturan yang tegas dulu, kapan mereka bisa meninggalkan kantor. Kan kerja itu, tidak harus sejak pagi sampai sore di kantor. Ada jam istirahat dan lain-lain. Kalau yang dipergunakan untuk duduk di kedai kopi itu adalah jam-jam istirahat, kan tidak ada masalah,'' jelasnya. ***