PEKANBARU – Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho meminta maaf kepada masyarakat yang terdampak kemacetan maupun tidak kebagian ketan talam durian dan durian gratis dalam Festival Ketan Talam Durian yang digelar di Jalan Jenderal Sudirman, Ahad, 21 Juni 2026.

Permintaan maaf itu disampaikan menyusul berbagai keluhan yang bermunculan setelah festival yang berhasil memecahkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai sajian ketan talam durian terpanjang di dunia tersebut.

"Atas nama Pemerintah Kota Pekanbaru dan panitia, kami menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang terdampak kemacetan. Kami juga memohon maaf kepada warga yang belum sempat mendapatkan Ketan Talam Durian maupun durian gratis karena antusiasme masyarakat di luar perkiraan kami," kata Agung.

Festival yang digelar dalam rangka Hari Jadi ke-242 Kota Pekanbaru itu sebelumnya diperkirakan hanya akan dihadiri sekitar 5.000 hingga 10.000 orang. Namun jumlah pengunjung yang datang disebut mencapai lebih dari 80.000 orang.

Membludaknya massa membuat kawasan Jalan Jenderal Sudirman dipadati warga sejak pagi. Selain menyebabkan kemacetan di sejumlah ruas jalan, kondisi tersebut juga memunculkan persoalan dalam proses pembagian ketan talam durian dan sekitar 3.000 buah durian yang disediakan panitia.

Sejumlah video yang beredar di media sosial memperlihatkan kerumunan warga mengelilingi meja-meja tempat ketan talam durian disajikan. Dalam beberapa rekaman, masyarakat tampak berdesakan dan saling berebut untuk mendapatkan makanan yang dibagikan secara gratis.

Rian, salah seorang pengunjung yang hadir di lokasi, mengaku tidak menyangka mekanisme pembagian makanan berlangsung seperti yang ia lihat di lapangan.

"Saya kira konsepnya seperti makan bajamba atau dibagikan per kotak. Ternyata setelah dibuka, masyarakat langsung maju mengambil sendiri. Ramai sekali," kata Rian kepada Goriau.

Menurut dia, jumlah petugas yang mengatur pembagian makanan tidak sebanding dengan jumlah masyarakat yang hadir.

"Banyak yang berebut. Panitia ada, tapi menurut saya sedikit. Orang-orang langsung maju mengambil makanan," ujarnya.

Keluhan serupa juga ramai disampaikan warga melalui media sosial. Sebagian mengaku tidak kebagian ketan talam durian meski sudah datang sejak pagi. Ada pula yang memilih meninggalkan lokasi karena tidak mampu menembus kerumunan massa.

Sorotan lain muncul dari sejumlah unggahan video dan foto yang memperlihatkan beberapa orang membawa bungkusan berisi ketan talam durian setelah acara berlangsung. Pemandangan itu memunculkan berbagai pertanyaan dari warganet mengenai mekanisme distribusi makanan yang diterapkan panitia.

Di kolom komentar sejumlah akun media sosial lokal, sebagian warga mempertanyakan apakah terdapat kelompok tertentu yang memperoleh akses lebih awal ke area penyajian makanan. Beberapa komentar bahkan menyinggung keberadaan kader PKK yang terlihat berada di sekitar lokasi pembagian.

Namun hingga berita ini ditulis belum ada keterangan resmi dari panitia maupun pihak PKK terkait berbagai pertanyaan yang berkembang di media sosial tersebut. Belum ada pula bukti yang menunjukkan adanya pelanggaran dalam proses pembagian makanan.

Terlepas dari berbagai keluhan yang muncul, Festival Ketan Talam Durian tetap mencatatkan sejarah baru bagi Pekanbaru. Sajian ketan talam durian sepanjang satu kilometer itu resmi ditetapkan MURI sebagai yang terpanjang di dunia.

Agung mengatakan rekor tersebut bukan semata-mata untuk mengejar pencapaian seremonial, melainkan bagian dari upaya memperkenalkan ketan talam durian sebagai identitas kuliner khas Pekanbaru.

"Rekor dunia ini bukan milik pemerintah, tetapi milik seluruh masyarakat Pekanbaru. Ini hadiah Hari Jadi Kota Pekanbaru ke-242 untuk masyarakat," ujarnya.

Menurut Agung, Pemerintah Kota Pekanbaru berharap ketan talam durian dapat semakin dikenal luas dan menjadi ikon kuliner daerah sebagaimana pempek di Palembang atau bakpia di Yogyakarta.

Meski berhasil memecahkan rekor dunia, sejumlah warga berharap evaluasi dilakukan terhadap tata kelola acara. Mereka menilai pesta rakyat semestinya tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga memastikan seluruh masyarakat memiliki kesempatan yang sama untuk menikmati sajian yang disediakan. ***