
PEKANBARU - Kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang siswi kelas VIII SMP Talenta Juara Pekanbaru berinisial AO kini tengah menyita perhatian publik. Akibat perlakuan tidak menyenangkan yang diduga dilakukan oleh sejumlah teman sekelasnya, AO mengalami trauma psikologis yang mendalam hingga enggan menginjakkan kaki di sekolah selama hampir dua minggu.
Kondisi memprihatinkan tersebut diungkapkan oleh ayah korban, BY, Senin (8/6/2026). Ia membeberkan bahwa selama kurun waktu dua pekan terakhir, putrinya kerap mencari beragam alasan agar tidak perlu datang ke sekolah. Misteri tersebut baru terpecahkan setelah AO mengumpulkan keberanian untuk berterus terang kepada keluarga.
"Anak saya akhirnya jujur bahwa dia sering dirundung oleh beberapa teman sekelasnya. Mereka melontarkan kata-kata kasar, mengejek, bahkan menyebutnya dengan sebutan yang tidak pantas seperti nama binatang dan hinaan lainnya," ujar BY kepada GoRiau.com.
Sebagai orang tua, BY mengaku sangat terpukul dan kecewa terhadap manajemen sekolah. Ia menilai sistem pengawasan serta pembinaan dari para tenaga pendidik di institusi tersebut masih sangat lemah, sehingga tindakan intimidasi verbal terbiarkan tanpa deteksi dini.
"Kami menyekolahkan anak di sekolah berbasis agama dengan harapan mendapatkan pendidikan yang baik, termasuk pembentukan karakter dan etika. Namun yang terjadi justru anak kami mengalami perundungan hingga mengalami trauma," katanya.
Dampak psikologis yang dialami AO saat ini sudah masuk dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan. Alih-alih ingin berbaur kembali, siswi malang tersebut justru menegaskan enggan melanjutkan studi di sana dan mendesak keluarga untuk segera memindahkannya ke sekolah lain.
Kekecewaan keluarga kian memuncak saat perwakilan sekolah datang menjenguk AO, Sabtu (6/6/2026). BY semula menaruh harapan besar agar pihak sekolah membawa angin segar berupa jaminan perlindungan mutlak bagi putrinya agar mentalnya kembali pulih. Namun, respons yang didapatkan justru dinilai mengecewakan dan tidak menyelesaikan akar masalah.
"Saat pihak sekolah datang menjenguk, kami berharap ada solusi agar anak kami merasa aman dan nyaman kembali ke sekolah. Namun yang disampaikan justru pilihan untuk ujian di rumah atau membantu jika ingin pindah sekolah," ungkapnya.
Keluarga korban kini mendesak adanya langkah konkret serta pembenahan internal dari otoritas sekolah. BY berharap kejadian kelam ini menjadi momentum evaluasi total agar lingkungan pendidikan benar-benar bersih dari aksi perundungan yang merusak masa depan generasi muda.
"Yang kami inginkan adalah anak kami bisa kembali bersekolah dengan tenang tanpa rasa takut. Selain itu, pengawasan dari para pendidik juga perlu dievaluasi. Sangat disayangkan jika praktik bullying bisa terjadi di lingkungan sekolah berbasis agama namun tidak terdeteksi oleh tenaga pendidik," pungkas BY. ***