
PEKANBARU – Di tengah kekhawatiran melemahnya daya beli masyarakat dan perlambatan ekonomi nasional, jumlah hewan kurban di Provinsi Riau justru meningkat signifikan pada Iduladha 1447 Hijriah. Fenomena ini dinilai menunjukkan adanya karakteristik ekonomi daerah yang berbeda dibandingkan kondisi nasional.
Data Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Provinsi Riau mencatat sebanyak 57.619 ekor hewan kurban dipotong pada Iduladha tahun ini. Jumlah tersebut meningkat 7.156 ekor atau 14,18 persen dibandingkan tahun 2025 yang mencapai 50.463 ekor.
Ekonom Senior Riau, Dahlan Tampubolon, menilai peningkatan tersebut bukanlah sebuah anomali jika dilihat dari struktur ekonomi dan perilaku konsumsi masyarakat di daerah.
"Kalau dilihat sekilas memang terlihat paradoks. Banyak yang mengatakan ekonomi nasional sedang melambat, tetapi jumlah hewan kurban di Riau justru naik. Namun secara teori ekonomi, fenomena ini bisa dijelaskan," kata Dahlan kepada GoRiau.com, Senin (8/6/2026).
Menurut Dahlan, salah satu penjelasan dapat dilihat melalui teori Relative Income Hypothesis yang dikemukakan ekonom James Duesenberry. Teori tersebut menjelaskan bahwa masyarakat cenderung mempertahankan pengeluaran untuk kebutuhan yang memiliki nilai sosial dan religius meskipun pendapatan sedang mengalami tekanan.
"Bagi masyarakat Riau, kurban bukan sekadar konsumsi biasa. Kurban memiliki nilai ibadah, sosial, sekaligus menjadi bagian dari tradisi yang dijaga. Karena itu, pengeluaran untuk kurban tetap diprioritaskan meski kondisi ekonomi sedang tidak ideal," ujarnya.
Selain faktor sosial dan religius, Dahlan menilai peningkatan jumlah hewan kurban juga dipengaruhi oleh masih kuatnya perputaran ekonomi sektor komoditas di Riau, khususnya perkebunan kelapa sawit dan migas.
Ia menjelaskan bahwa meskipun pertumbuhan ekonomi nasional menghadapi tantangan, aktivitas ekonomi di tingkat lokal masih ditopang oleh pendapatan masyarakat dari sektor-sektor tersebut.
"Riau memiliki basis ekonomi yang berbeda. Uang hasil panen sawit dan aktivitas sektor migas masih beredar di daerah. Likuiditas di tingkat masyarakat bawah relatif terjaga sehingga kemampuan untuk berkurban juga tetap ada," katanya.
Dahlan juga melihat adanya perubahan pola perilaku konsumsi masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi. Menurut dia, sebagian masyarakat memilih mengalokasikan dana untuk kegiatan keagamaan dibandingkan menahan uang dalam bentuk tabungan atau investasi lainnya.
"Dalam perspektif psikologi ekonomi, masyarakat melihat kurban sebagai investasi spiritual yang memberikan manfaat jangka panjang. Karena itu, belanja untuk ibadah justru tetap dilakukan meski konsumsi untuk kebutuhan tersier lainnya mungkin ditunda," ujarnya.
Ia menilai meningkatnya jumlah hewan kurban seharusnya menjadi momentum bagi pemerintah daerah untuk memperkuat sektor peternakan lokal.
Menurut Dahlan, tingginya permintaan hewan kurban menunjukkan adanya peluang pasar yang besar yang dapat dimanfaatkan peternak di daerah.
"Pemerintah daerah jangan hanya melihat ini sebagai angka statistik. Permintaan yang tinggi harus diikuti penguatan produksi peternakan lokal melalui pembinaan dan insentif bagi peternak. Dengan begitu, perputaran uang bisa lebih banyak dinikmati masyarakat Riau sendiri," katanya.
Sebelumnya, Dinas PKH Riau melaporkan jumlah hewan kurban tahun ini mencapai 57.619 ekor. Sapi masih mendominasi dengan 38.936 ekor, sementara kenaikan terbesar terjadi pada kerbau yang meningkat dari 3.702 ekor menjadi 6.364 ekor.
Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah hewan kurban terbanyak, yakni 10.633 ekor, disusul Kabupaten Kampar sebanyak 8.715 ekor dan Kabupaten Bengkalis sebanyak 5.375 ekor.
Dahlan menilai capaian tersebut menjadi bukti bahwa ketahanan ekonomi masyarakat Riau masih cukup kuat di tengah tekanan ekonomi nasional.
"Ini menunjukkan bahwa fondasi ekonomi masyarakat Riau masih memiliki daya tahan yang baik. Ke depan, pemerintah perlu memastikan sektor-sektor yang langsung menyentuh masyarakat, termasuk peternakan rakyat, terus diperkuat agar daya beli tetap terjaga," pungkasnya. ***