YOGYAKARTA - Dominasi film-film impor dan karya sineas ibu kota di bioskop-bioskop komersial daerah terus menjadi sorotan tajam parlemen. Untuk melindungi karya anak bangsa sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi kreatif di pelosok nusantara, rumusan strategi dari negara-negara raksasa sinema Asia kini tengah dibedah untuk diadopsi.

Anggota Komisi VII DPR RI, Hendry Munief, MBA membuka wacana penerapan proteksi pasar berbasis regulasi negara usai menyambangi Yayasan Sinema Yogyakarta bersama Panja Kreatifitas dan Distribusi Film Nasional (KDFN), Jumat (5/6/2026).

Hendry mencontohkan langkah berani pemerintah Korea Selatan yang sukses melakukan invasi budaya global berkat kebijakan screen quota atau kuota layar. Skema ini secara ketat mewajibkan jaringan bioskop untuk menayangkan film-film lokal dalam durasi hari tertentu setiap tahunnya, sehingga sineas dalam negeri tidak mati digilas film-film Hollywood.

"Indonesia bisa mengadopsi praktik terbaik ini, tentu dengan penyesuaian konteks lokal," sebut Hendry merespons ketimpangan jadwal tayang yang kerap dikeluhkan produser independen daerah.

Infrastruktur dan Pusat Komunitas

Selain menata ulang regulasi perlindungan pasar seperti Korea Selatan, Hendry juga membidik strategi pemerataan infrastruktur ala industri film India (Bollywood). Tingginya angka penonton di negara tersebut berbanding lurus dengan masifnya pembangunan fasilitas bioskop hingga ke daerah-daerah terpencil, sehingga akses hiburan tidak lagi dimonopoli oleh masyarakat perkotaan.

Pendekatan lain yang turut dilirik adalah taktik pemerintah Filipina yang berinvestasi besar dalam membangun pusat-pusat film komunitas. Fasilitas yang disubsidi negara ini berfungsi sebagai ruang pemutaran alternatif sekaligus laboratorium kreatif bagi para pembuat film muda untuk bereksperimen tanpa terbebani biaya sewa studio yang mahal.

Menurut Hendry, penyatuan ketiga cetak biru dari negara-negara tetangga tersebut akan menjadi amunisi mematikan jika dieksekusi dengan komitmen penuh oleh pemerintah pusat hingga daerah.

"Kolaborasi adalah kunci. Kalau semua bergerak bersama, saya yakin industri film kita bisa menjadi kekuatan ekonomi baru yang membanggakan," ungkapnya. ***