TEMBILAHAN, GORIAU.COM - Kebun kelapa kami terendam karena intusi air laut Pak, kebun kelapa kami mati karena terserang hama, kelapa kami mucung (tak berbuah) Pak, mana tanggul untuk kami, mana normalisasi parit untuk kami Pak, mana penyelamatan kebun yang digadang-gadangkan itu, kami butuh kerja nyata bukan retrorika, kami butuh selamatkan kebun kami wahai bapak kelapa.

Itulah sebuah kalimat yang dibacakan oleh anggota DPRD Inhil mengakhiri laporan reses mewakili Daerah Pemilihan (Dapil) III, Wisnaria saat rapat paripurna 3 masa persidangan 1 tahun sidang 2015, di Gedung DPRD Inhil, Kamis  (30/4/2015) malam.

Kata-kata tersebut, dikatakan wanita yang akrab disapa Wiwis itu merupakan teriakan masyarakat Pelangiran, yang terdiri dari 14.584 kepala keluarga, yang menggantungkan hidup pada 79.988 hektar kebun kebun kelapa rakyat.

Selain permasalahan kelapa, pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan, sarana dan prasarana pendidikan, penerangan, air bersih, kesehatan, serta fasilitas keagamaan dan olahraga, dikatakan Wiwis juga perlu diperhatikan.

''Oleh karena itu, Pemkab diminta lebih responsif dalam rangka memberikan kemudahan akselerasi dan mobilitas kerja masyarakat sehingga berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat Kabupaten Inhil,'' ujar Wisnaria.

Politisi PDIP ini juga mengatakan, hasil Musrenbang baik dari tingkat desa, kelurahan serta kecamatan, agar disinkronkan dan disejalankan dengan hasil reses yang merupakan pokok-pokok pikiran DPRD, sehingga dapat dimasukkan dalam Rencana Kerja Pembangunan Daerah (RKPD) dan menjadi skala prioritas dalam rangka penyusunan APBD mendatang.

''Diiringi harapan kami, agar Pemkab Inhil dapat menindaklanjuti berbagai aspirasi masyarakat serta menetapkan skala prioritas dan ketepatan sasaran rencana pembangunan daerah di Negeri Seribu Parit ini,'' tutup Wisnaria.

Dapil III sendiri meliputi Kecamatan Mandah dan Pelangiran, dimana Anggota DPRD yang berasal dari wilayah tersebut adalah Awandi, Okta Hasanatan, Wisnaria, Alfian dan Asmadi.(ayu)