
PEKANBARU - PT Riau Petroleum mencatatkan peningkatan laba agregat hingga Rp157,46 miliar melalui sejumlah anak usahanya. Capaian positif Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Provinsi Riau di sektor energi ini didorong oleh penguatan tata kelola perusahaan, optimalisasi bisnis, serta pendampingan langsung dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Republik Indonesia dalam pengelolaan Participating Interest (PI) 10 persen.
Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau, SF Hariyanto menilai peningkatan kinerja perusahaan merupakan wujud keberhasilan sinergi lintas instansi. Ia menjelaskan bahwa penguatan manajemen risiko, kepatuhan pada regulasi, serta efisiensi operasional sangat vital untuk menjaga keberlanjutan bisnis sekaligus memperbesar setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD).
"Keberhasilan Riau Petroleum tersebut saya lihat merupakan hasil sinergi berbagai faktor, mulai dari koordinasi dan supervisi KPK, penguatan tata kelola perusahaan, peningkatan efisiensi operasional, optimalisasi pengelolaan bisnis, hingga perkembangan industri hulu migas secara nasional," papar SF Hariyanto, Kamis (23/7/2026).
Lebih lanjut, ia meminta agar penguatan tata kelola ini terus menjadi perhatian seluruh pemangku kepentingan. Penerapan Good Corporate Governance (GCG) diyakini mampu memberikan manfaat ekonomi yang jauh lebih besar melalui pengelolaan sumber daya alam yang bertanggung jawab.
Sementara itu, Direktur Utama PT Riau Petroleum, Husnul Kausarian mengungkapkan bahwa perusahaannya memperoleh dukungan khusus dari KPK melalui fungsi koordinasi dan supervisi selama dua tahun berturut-turut, yakni periode 2025 hingga 2026.
"Alhamdulillah, selama dua tahun berturut-turut, dari 2025 hingga 2026, Riau Petroleum mendapat dukungan khusus terhadap pengelolaan PI 10 persen di Provinsi Riau," ucap Husnul.
Berdasarkan kompilasi kinerja tahun 2025, kontribusi terbesar disumbangkan oleh PT Riau Petroleum Rokan yang mengelola PI 10 persen di Wilayah Kerja (WK) Pertamina Hulu Rokan dengan mencatat peningkatan laba sebesar Rp126.865.475.706. Disusul oleh PT Riau Petroleum Mahato (PI 5 persen) dengan kenaikan laba mencapai Rp30.194.231.627.
Selanjutnya, PT Riau Petroleum Siak yang mengelola PI 10 persen di WK Gandewa mencatat peningkatan laba senilai Rp395.868.341, sedangkan PT Riau Petroleum Kampar dengan PI 10 persen di WK EMP menyumbang peningkatan sebesar Rp102.384.
"Secara agregat, peningkatan laba mencapai Rp157,46 miliar dibandingkan dengan sebelum adanya peranan dari koordinasi dan supervisi KPK RI dan penguatan tata kelola," urai Husnul.
Husnul berharap, transparansi dan profesionalisme yang telah terbangun dapat menjadi praktik baik (best practice) dalam reformasi BUMD sektor energi. Sebagai perpanjangan tangan daerah yang berfokus pada kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi, Riau Petroleum berkomitmen mengoptimalkan hak partisipasi daerah (PI) guna mendukung ketahanan energi nasional dan memperkuat kapasitas pembangunan di Provinsi Riau.***