PEKANBARU - Pihak manajemen SMP Talenta Juara Pekanbaru akhirnya angkat bicara dan memberikan klarifikasi resmi mengenai dugaan kasus perundungan yang menimpa seorang siswi kelas VIII berinisial AO. Otoritas sekolah menilai bahwa sederet informasi yang beredar dan disampaikan oleh orang tua korban sebelumnya tidak sepenuhnya selaras dengan fakta riil di lapangan.

Wakil Kepala SMP Talenta Juara Pekanbaru, Adi Hamdani, SPd menegaskan bahwa institusinya sejak awal menaruh perhatian serius dan proaktif menelusuri akar masalah yang membuat siswi bersangkutan enggan menghadiri kegiatan belajar mengajar di sekolah.

"Informasi yang disampaikan orang tua korban tidak semuanya benar. Kami merasa perlu memberikan penjelasan agar masyarakat mendapatkan informasi yang utuh dan berimbang," ujar Adi kepada GoRiau.com, Senin (8/6/2026).

Berdasarkan catatan internal sekolah, AO memang diketahui memiliki tingkat ketidakhadiran yang cukup tinggi dengan beragam alasan. Kondisi tersebut memicu pihak sekolah untuk melakukan langkah persuasif, termasuk menggelar program kunjungan ke rumah atau home visit berkali-kali demi mengurai kendala yang dihadapi sang siswi. Namun, dalam sejumlah kunjungan awal, tim pendidik belum memperoleh jawaban yang benderang.

Titik terang baru muncul pada pekan lalu saat sekolah mengendus kabar bahwa AO merasa tertekan dan disudutkan di lingkaran kelompok belajarnya. Persoalan tersebut dipicu oleh kekecewaan rekan sekelasnya yang menganggap AO minim kontribusi dalam menyelesaikan tugas kelompok akibat terlalu sering absen sekolah.

"Mendapat laporan tersebut, kami langsung merespons dan membicarakannya secara baik-baik dengan orang tua siswi, dalam hal ini ibunya," jelas Adi.

Tawarkan Solusi Duduk Bersama

Pihak SMP Talenta Juara Pekanbaru juga menepis keras tudingan yang menyebut mereka mengusir atau mendesak AO agar angkat kaki dari sekolah tersebut. Adi meluruskan bahwa opsi perpindahan sekolah serta permohonan pelaksanaan ujian secara daring justru murni lahir dari aspirasi pihak keluarga sendiri.

Sekolah sebenarnya sudah mengulurkan tangan untuk menggelar mediasi terbuka dengan mengundang siswi beserta orang tuanya ke sekolah agar benang kusut ini bisa diurai secara kekeluargaan. Sayangnya, iktikad baik tersebut belum disambut hangat oleh pihak keluarga.

"Sekolah sebenarnya membuka ruang penyelesaian secara langsung. Kami berharap semua pihak bisa duduk bersama untuk mencari solusi terbaik, tetapi tawaran itu ditolak," katanya.

Dalam momentum home visit lanjutan, ayah siswi yang tersambung melalui saluran telepon sempat meminta agar kemelut ini dituntaskan dalam tenggat waktu satu pekan. Permintaan tersebut disanggupi oleh pihak sekolah lewat serangkaian tindakan internal.

Adi juga menjamin hak pendidikan AO tidak terabaikan, dimana pelaksanaan ujian hari pertama bagi siswi tersebut berjalan tanpa hambatan secara daring berkat komunikasi yang sempat terjalin harmonis dengan keluarga.

"Kami berharap klarifikasi ini dapat menjawab berbagai kegaduhan yang berkembang di tengah masyarakat dan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai permasalahan yang terjadi," pungkasnya. ***