NEW DELHI - Umat Islam di Distrik Gurugram tidak bisa melaksanakan shalat Jumat kemarin (4/8/2023). Sebab masjid-masjid wilayah selatan New Delhi, India itu, terpaksa memilih meniadakan shalat Jumat, untuk menghindari konflik dengan ekstremis Hindu.

Altaf Ahmad, juru bicara Dewan Muslim Gurgaon, mengatakan para imam Gurugram telah mengimbau komunitas Muslim di kota itu untuk tidak ke masjid melaksankan shalat Jumat. 

“Bagi umat Islam, namaz Jumat merupakan kewajiban yang dilakukan secara berjamaah; namun mengingat kekerasan komunal baru-baru ini, mereka kemungkinan besar akan menjauh dari melakukan namaz di masjid, setidaknya pekan ini,” katanya dilansir Hindustan Times. Namaz adalah bahasa yang digunakan Muslim di India untuk menyebut shalat wajib umat Islam.

Presiden Muslim Ekta Manch, Haji Sajjad Khan mengatakan shalat Jumat tidak akan dilakukan secara terbuka di Gurugram.

"Sebelumnya juga ada penentangan untuk melakukan namaz di Gurugram dan mempertimbangkan kekerasan di Nuh, keputusan ini diambil demi keselamatan rakyat kami,” katanya.

Mufti Saleem Qasmi, ketua Jamiat Ulama di Gurugram, mengimbau masyarakat melalui pesan video untuk menahan diri dari shalat di tempat umum atau berkumpul di masjid.

Qasmi mengatakan, adalah tanggung jawab umat untuk menjaga persaudaraan. “Saya menghimbau kepada masyarakat untuk tidak melaksanakan namaz di tempat terbuka dan tetap berada di rumah masing-masing. Hanya orang-orang yang tinggal di masjid yang bisa melakukan shalat di dalam,” katanya.

Anggota komunitas Muslim pada Kamis bertemu dengan pejabat kepolisian setempat, DC Nishant Kumar Yadav untuk membahas langkah-langkah keamanan dan untuk memastikan tidak ada kekerasan baru yang meletus pada Jumat.

Yadav mengatakan mereka telah mengerahkan tim polisi di semua masjid dan semua tindakan pengamanan dilakukan. “Situasinya terkendali dan bahkan jika orang ingin shalat di masjid, pengaturan telah dibuat agar mereka melakukannya secara damai,” katanya, seraya menambahkan bahwa pejabat telah dikerahkan di semua area sensitif.

Kelompok sayap kanan Hindu pada Rabu juga telah mengajukan memorandum kepada wakil komisaris Polisi. Mereka menuntut larangan shalat di tempat umum. Permintaan diskriminatif ini telah diajukan kelompok garis keras Hindu beberapa tahun belakangan.

Sehubungan dengan permintaan itu, banyak masjid di Gurugram tak melaksanakan shalat berjamaah akibat dilarang kepolisian. Masjid Jami Anjuman yang dibakar setelah kerusuhan di Nuh adalah satu dari sedikit saja masjid yang boleh dipakai shalat berjamaah.

Bentrokan ini dimulai di wilayah Nuh di Haryana pada Senin (31/7/2023), dan menyebar ke Gurugram dan distrik lainnya. Berdasarkan laporan yang ada, hal ini telah mengakibatkan kematian enam orang, termasuk dua penjaga rumah dan seorang imam.

Kekerasan itu berawal dari aksi anggota kelompok garis keras Hindu Vishwa Hindu Parishad (VHP) pada Ahad (30/7/2023). Kala itu, massa melintasi kompleks Muslim dan meneriakkan slogan-slogan diskriminatif.

Aksi-aksi serupa biasa dilakukan ekstremis Hindu meski kerap dilarang kepolisian. Dalam sejumlah kesempatan, perlawanan Muslim atas aksi-aksi itu kemudian disusul persekusi massal dengan mayoritas korban dari umat Islam.

Sebagian warga Muslim di Nuh juga bereaksi serupa dengan rekan-rekan seagama mereka di wilayah lain di India. Mereka melawan prosesi dengan melemparkan batu, membuat para peserta prosesi mencari perlindungan di dalam sebuah kuil.

Saat malam semakin larut, kekerasan semakin meningkat, dengan sebuah masjid dibakar setelah tengah malam. Imam muda masjid itu, Muhammad Hafiz Saad, ditembak mati. Massa mengamuk di Nuh dan Gurugram yang lokasinya berdekatan,  membakar dan merusak lebih dari seratus kendaraan. Situasi tetap tegang dan bergejolak saat bentrokan terus berlangsung.

Dilansir di Livemint, Jumat (4/8/2023), total 23 orang telah ditangkap sehubungan dengan insiden kekerasan baru-baru ini di Nuh. Mereka telah diajukan ke pengadilan, kemudian dikirim ke tahanan polisi hingga empat hari, pada Kamis kemarin.

"Sebanyak 23 terdakwa dalam 6 kasus berbeda diajukan ke pengadilan hari ini. Terdakwa dalam FIR No. 261 dikirim ke penahanan 4 hari. Satu terdakwa dikirim ke penahanan 3 hari, lima terdakwa dikirim ke penahanan 4 hari dan sisanya dikirim ke penahanan 5 hari," tulis laporan berita ANI, mengutip Penasehat Hukum terdakwa.

Kamis kemarin, pemerintah Haryana memutuskan untuk mencabut sebagian kebijakan penangguhan layanan internet seluler di beberapa distrik, dari pukul 13.00 hingga 16.00 waktu setempat. Alasan di balik keputusan ini adalah agar kandidat yang hadir untuk tes CET/Skrining (postingan Grup C) dapat mengunduh kartu penerimaan mereka.

Sementara itu, pembatasan internet sebagian akan dicabut di wilayah tertentu di Haryana, termasuk Nuh, Faridabad, Palwal dan wilayah yurisdiksi Sub Bagian Sohna, Pataudi, serta Manesar di Distrik Gurugram.

Keputusan tersebut diambil setelah terjadi bentrokan antara dua kelompok di Nuh, yang dipicu oleh penyerangan terhadap prosesi keagamaan yang melewati distrik tersebut. Insiden kekerasan ini mengakibatkan kematian dua penjaga rumah dan menyebabkan banyak orang, termasuk sekitar 20 polisi terluka.***