JAKARTA. GORIAU.COM - PT Sampoerna Agro Tbk siap menggenjot produksi karetnya mulai tahun ini. Emiten perkebunan berkode SGRO ini rencananya bakal menambah lahan tertanam pohon karet seluas 1.000 hektare (ha) sampai 2.000 ha di Kalimantan. Selain itu, Sampoerna Agro juga akan melakukan diversifikasi ke tanaman sagu termasuk rencana menggunakan lahan konsensi 21.600 ha di Kepulauan Meranti, Riau untuk komoditi sagu.

Michael Kusuma, Kepala Hubungan Investor Sampoerna Agro mengatakan, perluasan lahan dilakukan karena tahun lalu perusahaan hanya memiliki luas lahan tertanam kecil, yaitu 100 ha.

Walau mengaku siap menggenjot produksi karet, Michael bilang, "Manajemen SGRO masih menitikberatkan pada bisnis utama yakni sawit," ujarnya, akhir pekan lalu.

Menurutnya, ekspansi Sampoerna Agro ke sektor perkebunan karet tidak lepas dari besarnya potensi bisnis komoditas tersebut. Menurut Michael, dalam beberapa waktu ke depan kebutuhan karet dunia terus meningkat dan harganya relatif baik.

Seperti diketahui, Sampoerna Agro yang selama ini lebih banyak berkecimpung di bisnis sawit mulai mendiversifikasikan usahanya ke komoditas karet dan sagu. Perusahaan ini menganggarkan dana Rp 200 miliar untuk masuk bisnis tersebut.

Dana sebesar itu diambil dari belanja modal tahun ini senilai Rp 1 triliun. Selain karet, Sampoerna Agro juga telah mulai menanam sagu di lahan seluas 2.000 ha.

Penanaman sagu ini menelan biaya sekitar Rp 30 juta-Rp 35 juta per ha sampai menghasilkan. Sementara biaya penanaman karet sekitar Rp 40 juta sampai Rp 45 juta per ha.

Selain memanfaatkan Hutan Ketapang seluas 100.000 ha, perusahaan juga akan menggunakan lahan konsesi seluas 21.600 ha di Kepulauan Meranti, Riau untuk ditanami sagu. Diversifikasi usaha perkebunan sagu dan karet diharapkan mampu menopang usaha perusahaan ini dalam jangka panjang.

Di bisnis inti, yaitu kelapa sawit, SGRO juga berencana menggenjot produksi dengan menanam sawit dilahan seluas 10.000 ha. Adapun total luas lahan sawit SGRO mencapai 110.000 ha. Dari lahan seluas itu, sebesar 90.000 ha sudah berproduksi.

Perusahaan ini juga akan menambah satu pabrik kelapa sawit (PKS) di Kalimantan berkapasitas 45 ton per jam. Pabrik yang ditargetkan beroperasi pada 2014 itu akan menambah kapasitas produksi CPO, dari sebelumnya 455 ton per jam menjadi menjadi 500 ton per jam. (kn)