RENGAT,GORIAU.COM - Setelah dipecat atau di PHK dan diusir oleh pihak perusahaan PT Palma I sejak beberapa waktu lalu, kondisi 41 orang pekerja atau karyawan perusahaan kelapa sawit group PT Duta Palma Nusantara (DPN) itu kian memprihatinkan.

Saat ini istri dan anak-anak mereka menderita kelaparan dan terlantar di Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Dinsos Nakertran) Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).

Mereka tiba di Dinsos Nakertran Inhu sudah sejak, Senin (25/5/2015) kemaren dan memilih berdiam di kantor tersebut. Karena sejak diusir dari perumahan perusahaan, para pekerja itu tidak lagi memiliki tempat tinggal.

"Kami sudah 3 hari tiga malam berdiam di sini. Dalam sehari semalam, kami hanya diberi makan sebanyak satu kali", ujar salah seorang karyawan PT Palma I Peni Aro (27) kepada GoRiau.Com, Rabu (27/5/2015) malam tadi.

Pasca diusir, sebelumnya mereka bermukim dibawah pokok kelapa sawit yang ada disekitar itu dan akhirnya mereka memilih untuk datang ke kantor Dinsos Nakertran Inhu untuk meminta perlindungan dan sekaligus tempat tinggal.

"Tujuan kami ke sini adalah untuk meminta agar Dinsos Nakertrans Inhu membantu kami dalam menyelesaikan persoalan dan tindakan semena-mena perusahaan terhadap kami. Terutama dalam penyelesaian pembayaran gaji dan pesangon yang selama ini belum dibayarkan PT Palma I", tuturnya.

Peni menambahkan, sejak hari pertama datang ke Dinsos Nakertran Inhu, mereka menginap di Mushallah kantor. Dan saat ini, mereka diinapkan dalam sebuah tenda yang disiapkan oleh pihak Dinsos Nakertran.

"Kami tidak menuntut banyak hal, melainkan hanya menuntut yang seharusnya menjadi hak kami. Jika semuanya selesai, maka kami akan pulang kampung ke Nias dan atau kami akan mencari pekerjaan lain untuk bisa bertahan hidup", sebutnya.

Dengan demikian, mereka berharap agar pemerintah daerah melalui Dinsos Nakertran Inhu bisa membantu mereka dalam penyelesaian persoalan ini. "Kami mohon dengan amat sangat, jangan biarkan kami menderita dan terkatung-katung seperti ini. Parahnya lagi, anak-anak kami juga diusir oleh pihak perusahaan dari sekolahnya", tukas Peni.

Pantauan GoRiau.Com, selain para pekerja itu, beberapa orang anak para pengungsi itu ternyata ada yang balita. Setiap harinya mereka mengalami kehausan dan kelaparan. Sebab, mereka tidak lagi memiliki bahan makanan yang layak untuk dimakan.(jef)