
PEKANBARU - Badan Restorasi Gambut (BRG) Indonesia bekerjasama dengan sebelas universitas di Indonesia dan berbagai pihak dalam upaya aksi restorasi gambut di sebelas provinsi di Indonesia. Aksi ini untuk mendorong perbaikan lahan gambut bagi perekonomian masyarakat.
Kepala BRG Indonesia Nazir Foead mengatakan, pelibatan universitas terutama untuk mengarahkan mahasiswa dalam melakukan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik aksi gambut. Mahasiswa diyakini potensial untuk menggerakkan masyarakat.
Para pakar restorasi perguruan tinggi diharapkan dapat berbagi informasi dan kajian ilmiah terkait penelitian dan kegiatan restorasi gambut.
"Upaya restorasi gambut melalui perbaikan tata kelola lahan gambut, perbaikan ekologi, ekonomi dan sosial memerlukan dukungan riset yang mendalam," ucap Nazir di Hotel Aryaduta, Selasa (31/5/2016).
Sebelas universitas itu antara lain Universitas Riau, Universitas Cendrawasih, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Mulawarman, Universitas Palangkaraya, Instutut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Sebelas Maret, Universitas Sriwijaya, Universitas Tanjung Pura dan Universitas Gajah Mada.
Riau sendiri akan menjadi pusat percontohan pengolahan gambut di Kabupaten Kepulauan Meranti dengan membangun perkebunan Sagu. Sagu diyakini selain menjadi lahan ekonomi juga untuk pengembangan pariwisata.
Terkait aksi restorasi gambut ini, Rektor Universitas Riau Prof. Dr. Aras Mulyadi, DEA mengaku, sebagai salah satu lembaga yang diberikan kepercayaan, pihaknya berkomitmen mendorong gerakan kepada pemerintah dan pemerhati lingkungan dalam mengembalikan fungsi lahan gambut yang kini sudah rusak karena mengalami salah alih fungsi.
Salah satu upaya dari Universitas Riau dalam menyokong gerakan restorasi gambut adalah dengan memberikan misi khusus pada mahasiswa KKN untuk penyuluhan atau gerakan penyadaran pada masyarakat terkait masalah gambut dan kebakaran lahan.
"Rencananya pada akhir Juli nanti akan diturunkan ribuan mahasiswa di seluruh desa yang ada di Riau untuk melakukan KKN. Kami meminta kepada mereka semua untuk memberikan pemahaman yang benar soal lahan gambut dan fungsinya sehingga tak ada lagi upaya pengerusakan gambut oleh masyarakat," kata Aras Mulyadi.
Selain mengadakan Kuliah Kerja Nyata pada mahasiswa, Aras mengatakan pihaknya juga akan mendorong akademisi membuat terobosan baru menghadapi gerakan restorasi gambut.
Salah satu masalah masyarakat menurut Aras adalah mahalnya proses pembersihan lahan sehingga biaya operasionalnya menjadi mahal. Sehingga masyarakat lalu beralih cara dengan melakukan pembakaran lahan pada perkebunan yang akan mereka buka.
"Kami akan mendorong pada para mahasiswa mauapun dosen untuk melakukan penelitian dan pengembangan dalam memberikan alternatif cara dalam membuka lahan perkebunan yang selama ini kebanyakan dengan cara dibakar," pungkasnya.***