
PEKANBARU – Premanisme di Riau bukan hanya persoalan kriminal, tetapi juga fenomena sosial yang berakar dari ketimpangan ekonomi dan budaya masyarakat. Pandangan ini disampaikan Dosen Sosiologi Universitas Riau, Robi Armilus, menanggapi pelaksanaan Operasi Pekat Lancang Kuning 2025 oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Riau sejak 1 hingga 14 Mei 2025.
"Saya melihat Operasi Pekat Lancang Kuning 2025 ini sebagai langkah penting dan nyata dari aparat kepolisian dalam memberantas premanisme dan kejahatan jalanan yang selama ini mengganggu ketertiban sosial di Riau," ujar Robi kepada GoRiau.com.
Ia mengapresiasi keseriusan Polda Riau, namun mengingatkan bahwa premanisme tidak bisa dipandang semata dari sisi hukum.
"Dari perspektif sosiologi, premanisme bukan sekadar persoalan kriminal, melainkan fenomena sosial yang tumbuh dari ketimpangan dalam struktur ekonomi, sosial, dan budaya masyarakat," jelasnya.
Sementara itu, Direktur Reskrimum Polda Riau, Asep Darmawan, dalam konferensi pers di Mapolda Riau, Kamis (15/5/2025), menyebut bahwa pihaknya telah menetapkan 169 orang sebagai tersangka dalam operasi tersebut.
"Seperti yang sudah disampaikan Bapak Wakapolda, Polda Riau tidak akan mentolerir dan tidak memberikan ruang sedikit pun bagi premanisme, termasuk dari kelompok organisasi masyarakat yang berperilaku seperti preman," tegasnya.
Operasi ini berhasil menjaring pelaku kejahatan jalanan yang terlibat dalam pemalakan, penganiayaan, hingga intimidasi terhadap masyarakat. Menurut Asep, ini adalah bentuk komitmen nyata untuk menciptakan rasa aman di tengah masyarakat.
Namun, Robi mengingatkan bahwa tindakan represif seperti ini hanya berdampak jangka pendek.
"Pendekatan ini memang efektif untuk mengendalikan wilayah yang dikuasai preman. Tapi jika akar masalahnya seperti kemiskinan dan pengangguran tidak diselesaikan, maka akan muncul generasi preman baru," paparnya.
Ia menyarankan pendekatan komprehensif berbasis pemberdayaan sosial dan transformasi struktural.
"Pelatihan kerja dan pemberdayaan ekonomi bagi mantan preman maupun pemuda rentan harus diperkuat. Ini penting agar mereka memiliki alternatif kehidupan yang lebih baik," tambahnya.
Robi juga menyinggung perubahan zaman yang turut memengaruhi pola pikir generasi muda.
"Kalau dulu zaman Orde Baru premanisme bisa ditekan, kini situasinya berbeda. Anak muda sekarang lebih terhubung secara digital, berpikir kritis, dan menolak dominasi berbasis kekerasan," jelasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan pesan reflektif untuk masyarakat.
"Kekuatan itu bukan soal intimidasi, tapi tentang kemampuan untuk memberi kontribusi yang berarti," ujarnya. ***