AARHUS - Pasangan ganda putri Indonesia, Ribka Sugiarto/Siti Fadia Silva Ramadhanti mencoba untuk bisa menebus kekalahan Gregoria Mariska. Namun, Ribka/Fadia mendapat pelajaran dan pengalaman dari Mayu Matsumoto/Nami Matsuyama.

Bertanding di partai kedua penyisihan terakhir Grup A perebutan Piala Uber 2020 melawan pasangan Jepang, telah membuka mata bagi pasangan pelapis Indonesia. Kekalahan 14-21, 19-21 dalam laga selama 45 menit itu memberinya begitu banyak pelajaran.

"Kami kalah karena tadi di poin-poin kritis, terutama di gim kedua, kami malah kurang nekad, kurang berani, dan tertekan," sebut Fadia usai laga yang berlangsung di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Selasa (12/10) pagi.

Di gim kedua, Ribka/Fadia sempat memimpin 19-18. Namun, di poin-poin krusial ini mereka kurang berani. Pasangan rangking 34 dunia itu malah ragu-ragu. Kendali permainan malah dikendalikan lawan yang lebih kaya pengalaman.

Tiga poin terakhir bisa didapat Mayu Matsumoto/Nami Matsuyama karena pasangan asal Negeri Sakura itu lebih berani. Ribka/Fadia pun kalah setelah berjuang optimal.

"Tadi di gim pertama, kami kurang langsung in dengan pertandingan. Permainan kami belum keluar. Sementara di gim kedua, sudah memimpin, tapi di poin-poin kritis malah kalah. Ini pelajaran penting agar di pertandingan berikutnya, kami harus bisa langsung main dengan pola yang kami inginkan," ujar Ribka.

Menurut kepala pelatih ganda putri Eng Hian, Ribka/Fadia memang diharapkan terus berkembang. Kekalahan ataupun kemenangan akan menambah pengalaman dan jam terbangnya untuk bersaing di tataran papan atas ganda putri dunia.

"Mereka harus terus diberi pengalaman bertanding, termasuk di ajang Piala Uber ini," tutur Eng Hian.

Dengan kegagalan memenangi laga kedua, Ribka/Fadia pun belum berhasil menyumbangkan poin bagi skuat Garuda. Indonesia pun tertinggal 0-2 lawan Jepang. Di partai pertama, Gregoria Mariska Tunjung kalah di tangan Akane Yamaguchi. ***