
PEKANBARU – Pemerintah Provinsi Riau mencanangkan Gerakan "Riau Membaca" sebagai langkah nyata untuk menumbuhkan kembali budaya membaca buku di tengah masyarakat. Gerakan ini diumumkan oleh Asisten III Sekretariat Daerah Provinsi Riau, Elly Wardhani, dalam acara pengukuhan Bunda PAUD dan Bunda Literasi se-Provinsi Riau di Gedung Daerah Balai Serindit, Kamis (24/4/2025).
Dalam sambutannya, Elly mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk meluangkan waktu minimal 15 menit setiap hari untuk membaca buku. “Saya ulangi, membaca buku ya Bapak Ibu, adik-adik, bukan membaca HP,” ujarnya tegas.
Menurutnya, kebiasaan membaca kini telah tergeser oleh layar gadget yang mendominasi perhatian masyarakat sejak pagi hingga malam. Karena itu, ia menekankan pentingnya membangun kembali budaya membaca sebagai rutinitas harian yang dimulai dari rumah, sekolah, hingga lingkungan sosial.
Gerakan ini bukan program seremonial semata. Pemerintah Provinsi Riau menyatakan komitmen penuh melalui dukungan anggaran yang disalurkan kepada dinas-dinas terkait, seperti Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, serta Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Elly menekankan bahwa perubahan besar dimulai dari kebiasaan kecil, dan konsistensi membaca buku 15 menit sehari dapat menciptakan generasi yang lebih cerdas dan siap menghadapi tantangan global.
Dalam kesempatan yang sama, Elly juga menegaskan bahwa pendidikan anak usia dini dan literasi merupakan fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Masa usia dini disebutnya sebagai fase emas pembentukan karakter, sedangkan literasi adalah kunci untuk membentuk masyarakat yang kritis, berempati, dan adaptif.
Ia menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Riau akan mendorong terbentuknya perpustakaan sekolah, taman bacaan masyarakat, serta memberikan penghargaan bagi daerah maupun individu yang aktif memajukan gerakan literasi.
Di hadapan para Bunda PAUD dan Bunda Literasi yang dikukuhkan, Elly menyampaikan bahwa peran mereka bukan hanya sebagai pendamping kepala daerah, melainkan juga sebagai penggerak sosial yang harus hadir di tengah masyarakat. Ia memberikan tiga harapan besar: menjadi teladan literasi di lingkungan masing-masing, membangun sinergi dengan berbagai pihak seperti sekolah dan komunitas literasi, serta menciptakan program inovatif seperti Satu Rumah Satu Buku, Membaca 15 Menit Sehari, dan Kelas Cerita untuk anak-anak.
Elly juga mendorong para Bunda PAUD dan Bunda Literasi untuk memanfaatkan media sosial sebagai sarana menyebarkan konten edukatif. "Jadilah influencer literasi di lingkungan masing-masing," ajaknya.
Menutup pidatonya, Elly menyampaikan bahwa mimpi besar Riau menjadi provinsi yang berbudaya Melayu, agamis, dinamis, dan ekologis tidak akan terwujud tanpa pondasi literasi yang kuat. “Kita tidak bisa bermimpi tentang Riau Emas jika tidak menyiapkan pondasinya dari sekarang. Mari kita bangun Riau dari rumah, dari sekolah, dari taman bacaan, dan dari hati yang penuh kasih untuk anak-anak kita,” tutupnya. ***